Kamis, 27 Mei 2010 09:45 WIB

88 Persen Lelaki di Yogya Merokok di Dalam Rumah

- detikHealth
Yogyakarta - Merokok di dalam rumah terbilang sangat berbahaya karena asap rokok tidak bisa hilang dengan cepat dan mengendap di dalam ruangan selama 4-6 jam.

Tapi banyak pria yang mengabaikannya, terbukti dengan perilaku merokok di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang 88 persen lelaki merokok di dalam rumah. Sekitar 53 persen anggota keluarga juga perokok.

Ini merupakan hasil survei Pusat Kajian Bioetika Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) terhadap 2.000 responden di 15 kampung di Provinsi DIY. Rata-rata mereka menghisap rokok minimal 10 batang per hari. Minimal 4 batang rokok dihisap laki-laki di dalam rumah

"Lebih dari 88 persen laki-laki merokok dalam rumah. Padahal di dalam rumah terdapat wanita dan anak-anak," kata Retna Siwi Patmawati peneliti Pusat Kajian Bioetika di Fakultas Kedokteran UGM, di Bulaksumur Yogyakarta, Kamis (27/5/2010).

Siwi mengatakan merokok di dalam rumah akan berdampak merugikan kesehatan anggota keluarga yang ada di rumah tersebut. Sebab partikel-partikel rokok akan tetap menempel di dinding, karpet, gorden dan mainan anak-anak.

"Ini dapat berdampak buruk bagi anak-anak dan wanita. Karena itu merokok tidak dibenarkan di dalam rumah. Wanita dan anak-anak memiliki akibat yang sama dengan perokok," katanya.

Menurut Siwi sebanyak 42 persen anak-anak dan 54 persen wanita terkena asap rokok yang dihisap suaminya. Padahal, dari survei diketahui sebanyak 74 persen istri tidak suka suaminya merokok. Namun 32 persen diantaranya mengatakan tidak bisa berbuat-buat apa-apa ketika melihat suami merokok.

Dari hasil itu juga diketahui sebagian besar responden wanita mendukung adanya gerakan masyarakat bebas asap rokok di rumah. Sebanyak 87 persen wanita mendukung gerakan ini.

"Sementara hanya 71 persen laki-laki perokok yang mendukungnya, sisanya menolak," katanya.

Sementara Dra Yayi Suryo Prabandari MSi, PhD menambahkan sebanyak 15 Rukun Warga (RW) di Kota Yogyakarta pada tahun ini menjadi pilot project untuk program Rumah Sehat Bebas Rokok seperti Pakuncen, Muja-muju, Gunungketur, Suryowijayan dan lainnya. Program ini digulirkan karena tingginya angka perokok di DIY, baik perokok aktif maupun pasif.

Oleh karena itu pihaknya akan terus mengkampanyekan dan membuat deklarasi bebas asap rokok di rumah. Kampanye itu akan dilakukan melalui RT dan RW yang didukung Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dan FK UGM.

"Perokok tidak akan merokok di dalam rumah, tetapi di luar rumah. Selanjutnya tidak akan merokok dalam pertemuan RT/RW dan kegiatan kampung lainnya serta tidak menyediakan asbak di rumah dan setiap pertemuan warga," kata Yayi.



(bgs/ir)
News Feed