Senin, 31 Mei 2010 16:12 WIB

Perempuan Jadi Target Utama Perusahaan Rokok

- detikHealth
Jakarta - Rokok bukan menjadi hal langka lagi di kalangan laki-laki. Dan untuk melebarkan pasarnya, kini perempuan pun menjadi target utama perusahaan rokok dan industri tembakau untuk menambah jumlah perokok baru.

Pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia Tahun 2010 yang diperingati tiap tanggal 31 Mei, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema 'Gender and tobacco with an emphasis on marketing to women'. Hal ini dirancang untuk mengantisipasi efek bahaya dari pemasaran tembakau khususnya kepada perempuan dan gadis remaja.

"Sekarang perusahaan rokok mengincar perempuan dan gadis remaja sebagai target baru pasar mereka sekaligus menjadikannya target utama," ujar Dr Priyanti Z Soepandi Sp.P(K), Direktur Utama RSUP Persahabatan, dalam acara konferensi pers memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) di RSUP Persahabatan, Jakarta, Senin (31/5/2010).

Menurut data WHO, dari 1 miliar perokok di dunia, sebanyak 20 persen atau sekitar 200 juta orang adalah perempuan, dan jumlah ini akan terus meningkat jika tidak diwaspadai.

Data dari 151 negara menunjukkan bahwa sekitar 7 persen remaja perempuan merokok dan 12 persen remaja laki-laki merokok. Bahkan di beberapa negara, lebih banyak remaja perempuan merokok dibanding laki-laki.

Statistik perokok di Indonesia, apabila dilihat dari kalangan anak dan remaja sebesar 24,1 persen anak remaja laki-laki dan 4 remaja perempuan atau secara keseluruhan sebesar 13,5 persen anak remaja Indonesia adalah perokok.

Bahkan untuk daerah Jakarta saja, data smoking prevelance dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia tahun 2008 menunjukkan bahwa terdapat 8 persen perokok perempuan di ibukota.

Artinya, ada 240 ribu perempuan perokok di antara tiga juta perokok aktif di ibukota. Jumlah perempuan perokok di Indonesia meningkat 5 kali lebih banyak dibanding laki-laki.

Menurut Dr Priyanti, ada kecenderungan jumlah perokok perempuan terus meningkat, sedangkan perokok laki-laki stabil. Inilah yang telah digencarkan oleh perusahaan rokok, mengincar target baru dan menjadikannya sebagai target utama.

Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup tidak sehat di masyarakat saat ini yang lebih banyak mempengaruhi perempuan dibanding laki-laki.

Gaya hidup seperti pergaulan dengan sesama perokok dan seringnya mengunjungi tempat-tempat hiburan yang banyak dikunjungi kalangan perokok, lebih mudah mempengaruhi perempuan.

Padahal perempuan seharusnya dapat memerangi kebiasaan rokok suami atau anak laki-lakinya. Memerangi rokok dengan kasih sayang seorang ibu mungkin akan menjadi cara yang mujarab. Tapi hal ini akan mustahil bila sang ibu juga seorang perokok aktif.

Tidak bisa dielakkan lagi, peran perempuan sebagai pelindung keluarga dari bahaya rokok sangat penting. Hal ini disebabkan karena peran perempuan sebagai ibu di dalam keluarga perokok hendaknya mampu memberikan contoh keteladanan yang baik dalam berperilaku, seperti perilaku sehat, jujur, mengatasi masalah dengan cara positif, dan selalu memberikan dukungan positif bagi setiap anggota keluarga yang ingin berhenti merokok.

Perempuan adalah pelindung keluarga dari rokok, dan bukan malah mengikuti kebiasaan suami dan anaknya yang merokok.


(mer/ir)
News Feed