Jumat, 25 Mar 2011 11:29 WIB

Panjang Umur Tapi Penyakitan Paling Ditakuti Orang

- detikHealth
Jakarta - Setiap orang pasti ingin panjang umur agar bisa lebih lama menikmati hidup. Tapi survei yang dilakukan di Eropa dan Inggris, warganya mengaku sangat takut jika punya umur panjang tapi penyakitan.

Mayoritas orang Eropa dan Inggris yang disurvei mengatakan memiliki tubuh yang sakit atau mengalami penderitaan fisik akan menjadi beban bagi orang lain. Yang tidak hanya mempengaruhi kualitas hidup si penderita tapi juga orang yang merawatnya.

Dari pada terkena penyakit parah, sebagian besar orang lebih menginginkan punya kualitas hidup yang baik daripada memanjangkan usianya. Alasannya, jika seseorang memiliki kualitas hidup yang baik, maka ia akan bisa menikmati setiap kehidupannya.

Semakin tua usia seseorang maka ia perlu menjalani kehidupan yang baik agar bisa menikmati setiap tahun yang berhasil dilewatinya tanpa perlu menderita akibat penyakit tertentu terutama penyakit yang menyerang diusia lanjut.

Untuk memiliki kualitas hidup yang baik dan tinggi bisa diawali dengan melakukan pola hidup sehat yang sederhana seperti mengubah pola makan dan mulai melakukan program latihan atau olahraga.

Tapi sebagian besar orang berkeinginan keras untuk memiliki umur panjang tanpa memperhatikan kualitasnya, padahal jika seseorang memiliki usia panjang tapi kualitasnya tidak baik seperti menderita penyakit tertentu akan membuatnya tidak bisa menikmati hidup.

Gaya hidup saat ini cenderung mengonsumsi makanan yang tidak sehat seperti junk food dan makanan olahan yang diketahui mengandung sedikit nutrisi, kondisi ini tentu saja berpengaruh terhadap kualitas hidupnya seperti penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang.

"Perlu ada perubahan mendasar untuk mendapatkan kualitas hidup yang baik. Meskipun prioritas dan kebutuhan tiap individu berbeda, tapi memiliki kualitas yang tinggi untuk menghabiskan waktu yang tersisa mutlak diperlukan setiap orang," ujar Prof Irene Higginson, Professor of Palliative Care and Policy di King’s College London, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (25/3/2011).

(ver/ir)