Rabu, 13 Jul 2011 12:15 WIB

Tidak Realistis, Novel Romantis Buruk Bagi Kesehatan Wanita

- detikHealth
Cambridge - Novel romantis banyak menjadi favorit kaum hawa. Tetapi seorang psikolog Inggris memperingatkan bahwa novel romantis dapat berpengaruh buruk pada kesehatan dan hubungan percintaan wanita.

"Novel memberikan wanita pendangan yang tidak realistis tentang apa yang diharapkan dari sebuah hubungan, cinta yang romantis," ujar Susan Quilliam, psikolog hubungan yang berbasis di Cambridge, seperti dilansir Livescience, Rabu (13/7/2011).

Menurut Quilliam, novel romantis menawarkan versi ideal dari percintaan, yang dapat membuat beberapa wanita merasa buruk tentang diri mereka sendiri karena hubungannya yang tidak sempurna.

Dan dalam beberapa kasus, novel romantis mungkin menyebabkan wanita membuat keputusan kesehatan yang buruk, termasuk tidak menggunakan kondom saat berhubungan seks, layaknya skenario yang digambarkan dalam novel.

Namun Quilliam menekankan, dia tidak mengatakan wanita sangat lugu dan tidak memahami perbedaan antara fiksi dan kenyataan.

"Novel menambah pandangan yang mendasari wanita seperti emosi dan alasan nafsu serta pengambilan keputusan yang solid. Wanita tidak harus mencoba untuk mengikuti semua emosi mereka, melainkan harus menyeimbangkannya dengan alasan," jelas Quilliam.

Quilliam mengatakan ia sering mendapat surat dari para wanita yang berada dalam hubungan yang stabil, tetapi merasa tertarik secara emosional dengan pria lain. Para wanita berpikir emosi ini berarti mereka harus meninggalkan hubungan mereka saat ini, karena gairah telah memudar dan harus mencari cinta yang baru daripada mencoba untuk menyelesaikan masalah.

"Selain itu, survei terbaru dari novel-novel romantis menemukan bahwa hanya 1 dari 10 penggunaan kondom. Bahkan, dalam banyak novel, pahlawan langsung menolak kondom karena dia tidak ingin ada 'penghalang' antara dirinya dan pahlawannya. Survei tersebut juga menemukan korelasi antara membaca novel roman dan sikap negatif terhadap kondom," jelas Quilliam.

Quilliam menuliskan pandangannya tersebut dalam Journal of Family Planning and Reproductive Health Care edisi Juli.



(mer/ir)