Kamis, 22 Sep 2011 11:05 WIB

Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Susul China

- detikHealth
Yogyakarta - Pada tahun 2010 China memiliki jumlah penduduk 1,34 miliar jiwa dengan pertambahan penduduk baru 73 juta dalam waktu 10 tahun. Sedangkan Indonesia penduduknya sebanyak 238 juta jiwa dengan penambahan jumlah penduduk 31 juta dalam kurun waktu sama.

Melihat pesatnya pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang jika berdasarkan rasio lebih tinggi dari China maka menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr Sugiri Syarief MPA, apabila dibiarkan begitu saja Indonesia akan menyusul China dalam jumlah penduduk.

Setiap tahunnya ada 3,5-4 juta tambahan penduduk baru di Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertambahan jumlah penduduk terbesar kelima setelah India (18 juta), China (11 juta), Nigeria, Pakistan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pertambahan jumlah penduduk dunia.

"Permasalahan kependudukan di Indonesia bukan hanya berkaitan dengan masalah kuantitas saja, namun juga dari aspek kualitas, persebaran dan mobilitas, administrasi kependudukan dan lainnya," kata Sugiri dalam sambutan pembukaan 'Konsolidasi Service Center Pengelolaan Program Kependudukan dan Keluarga Berencana' di Hotel Saphir Yogyakarta, Rabu malam (21/9/2011).

Sayangnya penambahan jumlah penduduk di Indonesia ini tidak diikuti dengan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik. Terbukti dari masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang masih berada pada urutan 108 dari 188 negara di dunia.

"Dari segi kualitas, jujur kita harus menyadari bahwa kualitas hidup penduduk Indonesia masih relatif rendah, baik dari kualitas kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Salah satu indikator yang bisa menjadi acuan adalah masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang masih berada pada urutan 108 dari 188 negara di dunia," ujar Sugiri.

Sugiri menyoroti masalah persebaran persebaran penduduk dan mobilitas penduduk. Menurutnya, dijumpai ketimpangan persebaran penduduk yang tidak merata, konsentrasi penduduk masih banyak di Pulau Jawa dan Madura maupun di kota-kota besar di Pulau lainnya.

Hal ini berimplikasi pada kemampuan tampung dan daya dukung lingkungan, yang pada gilirannya dapat derajat hidup dan permasalahan lingkungan hidup bagi penduduk.

"Urbanisasi adalah suatu keniscayaan, maka permasalahan urbanisasi akan menjadi salah satu upaya BKKBN juga agar persebaran penduduk tidak hanya bertumpu di Pulau Jawa," tegasnya.

Menyoroti usia harapan hidup, Dr. Sugiri mengaku salut dengan kota Yogyakarta yang penduduknya punya masa hidup cukup yang panjang.

"Usia harapan Yogyakarta masih tertinggi se Indonesia, yaitu sekitar 68 tahun untuk pria dan sekitar 75 tahun untuk wanita. Padahal kita sendiri juga tahu bahwa Yogyakarta sempat diguncang dua kali bencana alam yang dahsyat beberapa waktu lalu. Maka jika Anda ingin hidup lama, tinggallah di Yogyakarta," selorohnya.







(ir/ir)
News Feed