Senin, 12 Des 2011 10:35 WIB

Makan Fast Food 2 Kali Seminggu Tingkatkan Risiko Diabetes

- detikHealth
Jakarta - Mengonsumsi makanan cepat saji atau fast food memang tidak boleh terlalu sering. Konsumsi makanan ini 2 kali seminggu sudah bisa meningkatkan risiko terkena diabetes.

Sebuah studi baru menemukan orang dewasa muda lebih memungkinkan mengalami gangguan kesehatan seperti peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung jika ia mengonsumsi makanan cepat saji 2 kali dalam seminggu. Dan perempuan lebih rentan terhadap bahaya ini ketimbang laki-laki.

Pola hidup yang ada saat ini menunjukkan banyak orang yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat memasak dan memilih makanan yang cepat, padahal makanan-makanan ini bisa memiliki masalah kesehatan serius yang tersembunyi.

Sekitar 10 persen penyakit diabetes diduga disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang rusak, sedangkan 90 persen lainnya atau diabetes tipe 2 erat kaitannya dengan pola makan tidak sehat dan gaya hidup, salah satunya terlalu sering makan fast food.

Kadar gula darah yang terus meningkat bisa mengganggu sirkulasi dan pembuluh darah. Karena itu jika diabetes tidak diobati dengan baik maka meningkatkan risiko serangan jantung, kebutaan dan amputasi.

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari University of Tasmania dan 1 institut di Australia yang mempelajari pola makan dan gaya hidup dari 1.896 orang laki-laki dan perempuan yang berusia 26-36 tahun.

Diketahui hampir 40 persen laki-laki dan 29 persen perempuan mengonsumsi fast food 2 kali seminggu atau lebih. Pemeriksaan medis termasuk tes untuk insulin dan glukosa menunjukkan kadar yang tinggi atau memicu diabetes tipe 2, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (12/12/2011).

Kadar insulin dan glukosa yang tinggi membuat seseorang jadi resisten terhadap hormon tertentu yang nantinya dapat menimbulkan kerusakan atau efek yang jauh lebih parah. Dalam studi sebelumnya diketahui bahwa 1 makanan cepat saji yang dikonsumsi mengandung 23,2 gram lemak jenuh atau lebih.

Hasil studi terbaru ini telah dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition.


(ver/ir)