Selasa, 03 Apr 2012 18:16 WIB

Kanker Anal Diduga Bukan Karena Perilaku Seks Anal

- detikHealth
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Infeksi human papillomavirus (HPV) di anal dan lesi prakanker memang umum di antara pria gay dan biseksual. Tetapi sebagian besar kasus tidak akan berkembang menjadi kanker anal (dubur). Hal tersebut merupakan analisis baru dari hasil penelitian.

Para peneliti juga menemukan bahwa, tingkat perkembangan dari lesi anal untuk kanker anal di antara pria tampaknya jauh lebih rendah dibandingkan dengan laju perkembangan lesi serviks menjadi kanker serviks pada wanita.

HPV tipe 16 dan HPV 18 menyebabkan 80 persen kanker anal dan 70 persen kanker serviks. Hal tersebut berdasarkan informasi dari latar belakang dalam laporan yang dipublikasikan secara online dalam The Lancet Oncology.

Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data dari 53 studi sebelumnya yang melibatkan pria gay dan biseksual. Dari data tersebut para peneliti menemukan bahwa, sebagian besar laki-laki memiliki infeksi HPV di anal, dan 20-30 persen dari peserta penelitian memiliki lesi prakanker di anal.

"Pria dengan HIV lebih mungkin terinfeksi dengan jenis risiko tinggi HPV dibandingkan pria dengan tanpa HIV dan juga lebih mungkin untuk memiliki lesi prakanker di anal," kata para peneliti seperti dilansir dari EverydayHealth, Selasa (3/4/2012).

Tingkat perkembangan dari lesi di anal menjadi kanker anal adalah sekitar satu dari 600 per tahun untuk pria HIV positif dan sekitar satu dari 4.000 per tahun untuk pria dengan HIV negatif. Sebagai perbandingan, tingkat perkembangan dari lesi serviks menjadi kanker serviks adalah sekitar satu dari 80 per tahun.

Karena skrining kanker serviks telah menyebabkan penurunan tajam dalam kasus kanker serviks dan kematian. Maka logikanya, strategi yang sama mulai disarankan untuk lesi prakanker di anal pada pria gay dan biseksual akan dapat menyelamatkan banyak nyawa.

"Namun, hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan hal tersebut. Sehingga mungkin tindakan pencegahan kanker serviks dan kanker anal akan berbeda. Namun strategi yang berkualitas untuk skrining kanker anal sangat diperlukan," kata Andrew Grulich, dari University of New South Wales di Australia.

Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi hasil penelitian tersebut dan untuk mengetahui strategi terbaik yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kanker anal.




(del/ir)