Jumat, 17 Agu 2012 10:01 WIB

Kalau Stres Jangan Lama-lama, Biar Otak Nggak Kisut

- detikHealth
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Semua orang pasti mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam kadar normal, stres bisa bermanfaat untuk kesehatan. Tapi kalau kelamaan stres maka otak bisa kisut alias mengeriput.

Tapi sayangnya, kebanyakan orang tidak sadar bahwa kadar stres di dirinya sudah melampaui batas dan terlalu lama mendiamkan stres. Padahal stres berlebih bisa membahayakan otak dalam berbagai cara.

Kebanyakan orang tidak sadar bahwa dirinya tengah stres sampai gejala atau keluhan di fisik terjadi, seperti sakit kepala atau sakit perut. Stres bahkan bisa merusak beberapa bagian dari otak.

Berikut beberapa hal yang terjadi di otak ketika seseorang mengalami stres untuk jangka panjang, seperti dilansir Buzzle, Jumat (17/8/2012):

1. Kerusakan sel otak

Saat stres, otak melepaskan hormon glukokortikoid yang secara bertahap melemahkan sel-sel otak dan akhirnya membunuh sel-sel tersebut. Adrenalin pun dilepaskan selama stres, yang membuat orang merasa gelisah dan bingung. Ketika adrenalin ini tidak dikeluarkan, dapat mengakibatkan kelebihan produksi glukokortikoid.

2. Melemahkan memori

Peningkatan glukokortikoid yang berkepanjangan dapat melemahkan memori, dengan membuat ujung saraf sulit terhubung dengan sel otak baru.

Kondisi ini juga membuat semakin sulit untuk mengirimkan informasi bolak-balik, sehingga menyebabkan kehilangan memori jangka pendek. Ini adalah salah satu alasan yang menginduksi terjadinya demensia dan Alzheimer pada manusia.

3. Otak menyusut

Stres dapat menyebabkan wilayah hippocampus menyusut selama beberapa waktu. Kondisi ini lebih sering terlihat pada korban trauma dan kekerasan. Dengan menyusutnya otak, membuat sulit bagi orang untuk fokus dan mengingat fakta-fakta. Hal ini juga mempengaruhi keterampilan motorik dan membuat orang sulit merencanakan sesuatu.

4. Menjepit saraf

Stres secara drastis dapat mengurangi sirkulasi darah di otak, sehingga meningkatkan kemungkinan menderita stroke. Saraf dan pembuluh darah mulai menyusut atau menjepit bersama-sama, menghalangi pasokan darah, oksigen dan nutrisi ke otak, menunda kemampuan otak untuk menyembuhkan dirinya sendiri lebih cepat.

5. Penyebab depresi

Stres sangat mempengaruhi pelepasan endorfin atau hormon yang membuat orang merasa bahagia. Hal ini dapat menyebabkan depresi, di mana individu kehilangan harapan dan menemukan segala sesuatu menjadi sangat sulit baginya.

Alasan kedua, stres menyebabkan tingkat kortisol meningkat di otak, yang mempengaruhi metabolisme secara keseluruhan, sehingga membuat orang depresi cenderung tidak aktif dan kelesuan.

(mer/ir)