Selasa, 11 Sep 2012 13:41 WIB

Jumlah Perokok di Indonesia Meningkat, Menkes Malu

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Rokok masih menjadi polemik di masyarakat hingga saat ini. Berbeda dengan negara maju dan negara tetangga lainnya, pengendalian tembakau di Indonesia terbilang kurang berhasil.

Kenyataan ini diperjelas dengan temuan dari Global Adult Tobacco Survey (2011) yang menyatakan bahwa sebanyak 61,4 juta orang dewasa di Indonesia yang masih merokok.

Dari data GATS tersebut, ditemukan sebanyak 67,4 persen pria dewasa di Indonesia adalah perokok. Padahal data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1995 menunjukkan sebanyak 53,4 persen pria dewasa di Indonesia yang merokok. Artinya, jumlah perokok di tanah air semakin meningkat.

"Kita harus malu terhadap rakyat. Kita gagal melindungi rakyat kalau jumlah penduduk yang merokok masih sekian tingginya," kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi dalam acara Peluncuran Buku Global Adult Tobacco Survey (GATS) di Kementerian Kesehatan, Selasa (11/9/2012).

Bila dibandingkan dengan 16 negara lain yang juga melakukan GATS, Indonesia menduduki posisi pertama dengan prevalensi perokok aktif tertinggi.

Sebanyak 67,4 persen pria dan 2,7 persen wanita di Indonesia adalah perokok. Sedangkan di India, angkanya lebih rendah dengan 47,9 persen pria dan 20,3 persen wanita yang menjadi perokok. Dibandingi Filipina, Thailand, Vietnam dan Polandia, jumlah perokok di tanah air juga masih lebih besar.

Hasil survei juga menemukan bahwa kerugian akibat merokok diperkirakan sebanyak Rp 245,5 triliun.

"Di seluruh dunia, konsumsi rokok selalu menimbulkan dampak bagi kesehatan dan perekonomian keluarga, terutama pada keluarga dengan ekonomi rendah," imbuh Menkes.

Menkes juga menyatakan tekadnya melindungi masyarakat Indonesia dari dari bahaya penggunaan tembakau. Salah satu upayanya adalah mengegolkan RPP Pengendalian Tembakau.



(pah/ir)
News Feed