Selasa, 23 Okt 2012 07:38 WIB

Gara-gara Benturan di Kepala, Orang Baik-baik Bisa Jadi Penjahat

- detikHealth
ilustrasi (foto: Thinkstock) ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Tidak semua penjahat memiliki sifat-sifat jahat sebagai bawaan dari lahir, sebagian karena pengaruh lingkungan. Sebagian lagi merupakan dampak dari benturan di kepala, sebab menurut penelitian cedera otak bisa mempengaruhi perilaku.

Penelitian yang dilakukan di University of Exeter tersebut menunjukkan, trauma di kepala bisa membuat susunan saraf mengalami misfire atau semacam korsleting di otak. Dampaknya bisa mempengaruhi kemampuan untuk menilai serta mengontrol impuls atau keinginan.

Temuan ini menguatkan hasil penelitian lain yang dilakukan secara terpisah oleh Children's Commissioner for England dalam waktu hampir bersamaan. Dalam penelitian tersebut terungkap, cedera yang terjadi selama proses pematangan otak bisa memicu konsekuensi sosial.

Prof Huw Williams dari University of Exeter menyebut trauma akibat cedera otak sebagai epidemi yang tersembunyi. Pemicunya banyak sekali meski sering terabaikan dan dianggap tidak serius, mulai dari jatuh saat olahraga hingga perkelahian maupun kecelakaan lalu lintas.

Kenyataannya, hal itu berhubungan erat dengan perilaku kriminal yang muncul ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa. Dari 200 narapidana di Inggris yang disurvei, sebagian besar atau tepatnya 60 persen punya riwayat cedera di kepala sewaktu muda.

"Cedera otak terbukti sebagai kondisi yang meningkatkan risiko untuk menyerang, dan ini juga menjadi penanda kuat bagi faktor kunci lainnya yang menunjukkan risiko menyerang," kata Prof Williams seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (23/10/2012).

Temuan ini sekaligus menegaskan pentingnya penanganan yang baik terhadap kasus-kasus cedera otak akibat benturan di kepala. Skrining bagi anak muda yang berisiko mengalami benturan di kepala juga perlu dilakukan dalam rangka mengurangi angka kriminalitas.



(up/nvt)
News Feed