Senin, 29 Okt 2012 11:30 WIB

Gangguan Tidur Akut Bisa Diendus Hidung Elektronik Ini Lho

- detikHealth
(Foto: Thinkstock) (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Obstructive sleep apnea atau biasa disebut dengan sleep apnea saja rupanya tengah menjadi buah bibir. Hal ini dikarenakan angka kejadiannya yang makin tinggi belakangan ini.

Gangguan tidur ini terjadi ketika saluran pernafasan seseorang tertutup sementara saat tidur, terutama bagi orang yang suka mendengkur dalam tidurnya. Terkadang di tengah tidur, pengidap gangguan ini akan terbangun dalam kondisi megap-megap atau terengah-engah.

Masalahnya pengidap gangguan ini berisiko terkena penyakit kardiovaskular, mudah mengantuk, selalu lelah ataupun sakit kepala hingga mati mendadak karena jantung tiba-tiba ikut berhenti saat pernafasan terhenti seketika. Namun pengidapnya sendiri seringkali tak yang menyadari jika mereka atau anggota keluarga mereka terkena gangguan pernafasan akut ini.

Beruntung tim peneliti dari Jerman menciptakan sebuah hidung elektronik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis sleep apnea. Bahkan hidung canggih ini dapat membuat diagnosis lebih cepat dan lebih murah ketimbang metode yang telah ada seperti pemeriksaan tidur semalaman (overnight sleep examination). Pasalnya secara teknis, metode ini tidak praktis serta menghabiskan banyak waktu dan biaya.

Menurut laporan studi yang dipublikasikan dalam European Respiratory Journal, hidung elektronik ini mampu membedakan ada tidaknya sleep apnea pada diri seseorang dengan cara menganalisis pola senyawa organik volatil (VOC) yang ada pada sampel nafasnya.

Untuk studi ini peneliti meminta 40 pasien sleep apnea dan 20 partisipan sehat untuk mengisi kuesioner, menjalani pemeriksaan tidur dan diambil sampel nafasnya.

Dalam hal ini peneliti mengaitkan sleep apnea dengan peradangan pada saluran pernafasan bagian atas sehingga nafas yang keluar dari partisipan dianggap dapat digunakan untuk mendeteksi adanya sleep apnea pada seseorang atau tidak.

Lalu peneliti menggunakan model analisis statistik untuk menghitung akurasi hidung elektronik yang mereka ciptakan.

Peneliti juga mengumpulkan sampel lendir yang ada pada tenggorokan partisipan untuk mengukur kemajuan kondisi sleep apnea partisipan pasca menjalani pengobatan CPAP. Tujuannya tak lain untuk mengetahui efektivitas pengobatan standar sleep apnea yaitu continuous positive airway pressure (CPAP).

Hasilnya, hidung elektronik tersebut dapat mendiagnosis sleep apnea secara efektif. Bahkan analisis statistik menunjukkan bahwa sleep apnea pada partisipan dapat terdeteksi dengan tingkat sensitivitas hingga 93 persen.

"Ini pertama kalinya sebuah hidung elektronik diciptakan untuk mendiagnosis sleep apnea. Hidung elektronik ini dapat memberikan manfaat dengan dua cara. Pertama, alat ini dapat membantu mengobati sleep apnea, terutama pada populasi yang prevalensinya rendah dan kedua, dalam populasi yang risiko sleep apnea-nya tinggi, alat ini dapat membantu menentukan pasien mana yang harus menjalani tes tidur semalaman (overnight sleep test) atau tidak," terang ketua tim peneliti, Dr. Timm Greulich dari Marburg Hospital, Jerman seperti dilansir dari medindia, Senin (29/10/2012).

Menurutnya, penggunaan hidung elektronik ini dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan pasien dengan memilih pasien mana yang benar-benar membutuhkan pemeriksaan tidur secara lebih seksama dan mana yang tidak perlu sama sekali.





(nvt/nvt)
News Feed
Breaking News
×
Sidang Sengketa Pilpres 2019
Sidang Sengketa Pilpres 2019 Selengkapnya