Kamis, 08 Nov 2012 12:26 WIB

Ajak Karyawan Indonesia Ber-KB, BKKBN Hidupkan Lagi KB Perusahaan

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Denpasar - Dari 237,6 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 102,55 juta orang yang berstatus bekerja. Untuk dapat menekan angka kelahiran, BKKBN pun menyasar karyawan-karyawan Indonesia dengan menghidupkan kembali Program KB Perusahaan.

Program KB Perusahaan sebenarnya pernah berjaya di tahun 80-an hingga 90-an. Program ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian peserta KB baru dan upaya peningkatan kesejahteraan keluarga karyawan dan karyawati.

"Program KB Perusahaan terbukti bermanfaat bagi kedua belah pihak, baik bagi karyawan maupun perusahaan," ujar Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Drs. Subagyo, MA, dalam acara pembukaan Workshop Rencana Aksi Nasional KB Perusahaan, Denpasar, Bali, Kamis (8/11/2012).

Karyawan yang menjadi peserta KB, lanjut Subagyo, akan lebih sejahtera karena dengan jumlah keluarga kecil mereka dapat menghemat biaya pendidikan, kesehatan dan meminimalisir biaya keperluan rumah tangga.

Sedangkan dari sisi pemilik perusahaan, keuntungan yang bisa diperoleh berupa peningkatan produktivitas dan kinerja karyawan. Karena itu perusahaan dapat memperoleh output yang lebih besar dan dapat menghemat biaya-biaya yang terkait dengan masalah kesehatan karyawan.

Sayangnya, kala reformasi bergulir pada tahun 1998, program ini sempat ditinggalkan.

Barulah pada tahun 2012, BKKBN berkomitmen menghidupkan kembali Program KB Perusahaaan. Untuk dapat meningkatkan peranan swasta, BKKBN pun menggandeng Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia).

"Dampak KB Perusahaan sangat luar biasa. Ketika KB dijalankan, produktivitas sudah pasti (baik), karena dia merasa aman dan nyaman di keluarganya. KB tidak hanya tanggungjawab pemerintah, tapi juga dunia usaha," tutur Nina Tursinah, SSos, MM, Ketua Bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Perempuan Pekerja, Gender, dan Sosial DPN Apindo.

Diharapkan dengan berjalannya Program KB Perusahaan, setiap perusahaan memiliki klinik khusus KB yang dapat memberikan akses untuk alat-alat kontrasepsi.

Manfaatnya tidak hanya akan memudahkan si karyawan dan karyawati untuk memperoleh akses KB, tetapi juga masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan.

"(Program) ini sebenarnya masih ada, hanya saja meredup. Makanya kita akan ada revitalisasi pelayanan pelaksanaan KB," papar Subagyo.

BKKBN juga mengharapkan agar perusahaan-perusahaan di Indonesia bisa memberikan waktu untuk melakukan sosialisasi tentang program-program KB di perusahaan.

Dengan berjalannya Program KB Perusahaan ini, angka kelahiran total (TFR) di Indonesia diharapkan dapat turun dan laju pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia dapat ditekan. Akhirnya, kesejahteraan masyarakat pun semakin meningkat.

(mer/vit)