Selasa, 18 Des 2012 15:31 WIB

PKBI: 83 Persen Pasien Aborsi adalah Perempuan Menikah

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Di Indonesia dan kebanyakan negara lain di dunia, aborsi atau pengguguran kandungan merupakan perbuatan melanggar hukum. Sayangnya, masih banyak orang yang nekat melanggar hukum demi menggugurkan janinnya.

Menurut hasil penelitian PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), sebagian besar pasien aborsi adalah orang yang sudah menikah. Penelitian tersebut dilakukan di 13 klinik yang berada di 11 propinsi dalam kurun waktu tahun 2008 sampai 2011.

Hasilnya menujukkan bahwa 83 persen perempuan yang menggugurkan kandungan adalah perempuan menikah, sedangkan perempuan belum menikah hanya 16 persen. Sebagian besar pasien aborsi adalah perempuan bekerja, yaitu sebanyak 50 persen.

Perempuan tak bekerja menempati posisi kedua dengan jumlah 42 persen dan sisanya 8 persen ditempati oleh pelajar atau mahasiswa. Artinya, pendapat yang selalu mengaitkan aborsi dengan remaja belum tentu benar adanya.

"Kebanyakan orang menganggap aborsi identik dengan remaja karena remaja dituduh sering melakukan seks bebas. Namun penelitian kami menemukan bahwa anggapan itu bisa jadi keliru," kata peneliti dari PKBI, Arsi Suarsi dalam acara deseminasi hasil penelitian di WIsma PKBI, Jakarta, Selasa (18/12/2012).

Dalam kurun waktu 2008-2011, tercatat ada 32.517 perempuan yang mengakses layanan pemulihan haid. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan periode 2004-2007 dengan jumlah 31.697 klien. Jika dijumlahkan, jumlah perempuan yang telah mengakses layanan pemulihan haid dari tahun 2004 sampai 2011 adalah 64.214 pasien.

Yang dimaksud pasien layanan pemulihan haid adalah mereka yang terlambat haid dan mencari layanan agar haidnya bisa lancar kembali. Dengan kata lain, pasien-pasien ini mengalami kehamilan yang tak diinginkan dan bermaksud menggugurkan kandungannya.

Ada beragam alasan yang mendasari mengapa para perempuan ini tega menggugurkan janinnya. Sebanyak 54 persen pasien aborsi yang sudah menikah menilai jumlah anak yang dimiliki sudah cukup, yaitu 2 anak. Alasan lainnya adalah karena sudah memiliki anak yang masih kecil dan usia yang masih terlalu muda atau tua.

Pada perempuan yang belum menikah, motif yang mendasari aborsi adalah karena belum menikah. Perempuan ini merasa malu terhadap pandangan masyarakat sekitar apabila hamil tanpa suami atau merasa takut terhadap kemarahan orang tua.

"Angka-angka ini adalah angka yang datang ke klinik, jadi belum tentu dapat digeneralisasikan ke populasi. Kalau kita melihat angka jumlah orang yang datang ke klinik meningkat, belum tentu menunjukkan peningkatan atau penurunan kasus kehamilan tak diinginkan," kata prof Budi Utomo MPH, pakar Kesehatan Masyarakat dari UI.

Prof Budi menjelaskan bahwa pada kenyataannya, tidak ada yang tahu persis berapa jumlah orang yang mengalami kehamilan tak diinginkan. Apalagi klinik-klinik aborsi memang tidak ada yang legal dan cenderung tertutup.

UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 pasal 75 menyebutkan bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi. Namun pengecualian diberlakukan pada kasus kehamilan yang terindikasi mengalami kedaruratan medis sehingga mengancam nyawa ibu dan janin atau menyebabkan cacat bawaan pada janin. Pengecualian juga berlaku pada korban perkosaan yang mengalami trauma psikologis.


(pah/vit)