Luka Saat Main Bola Lawan Orang dengan HIV, Harus Bagaimana?

ADVERTISEMENT

Luka Saat Main Bola Lawan Orang dengan HIV, Harus Bagaimana?

- detikHealth
Rabu, 19 Des 2012 16:30 WIB
Bandung - Bagi orang awam dengan pengetahuan yang terbatas soal HIV-AIDS, main sepakbola dengan pengidap HIV memang menakutkan. Bagaimanapun ada risiko kontak fisik yang bisa memicu kontak cairan tubuh, khususnya darah. Lalu bagaimana kalau sampai terjadi luka?

"Saya sarankan VCT (Voluntary Counseling Test atau tes dan konseling HIV secara sukarela). Tapi kita lihat juga, kalau hanya saya yang luka dan Anda tidak ya tidak masalah," kata Karmala Wardhani alias Bonang, humas Rumah Cemara saat menemui wartawan di Geger Kalong, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/12/2012).

Menurut Bonang, penularan HIV (Human Immunodeficiency Virus) melalui darah membutuhkan entry point atau pintu masuk dan exit point atau pintu keluar. Luka pada pengidap menjadi pintu keluar bagi virus, sedangkan luka pada orang lain yang tertular menjadi pintu masuk.

Tanpa adanya 2 pintu tersebut secara bersamaan, maka risiko penularan HIV akan sangat kecil. Apalagi kalau hanya kontak keringat saat main bola ataupun bersalaman, penularan virus hampir bisa dikatakan tidak mungkin terjadi.

Meski demikian, Bonang mengakui tidak semua orang bisa menerima edukasi semacam ini. Terbukti dari komunitas-komunitas yang diajak tanding street soccer, sekitar 5 persen menolak dengan berbagai alasan yang mengesankan ketakutan bakal tertular virus penyebab AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) ini.

"Tidak terang-terangan bilang kalau takut tertular sih, tapi kita bisa lihatlah dari sikapnya," kata Bonang.

Ajakan untuk tanding street soccer menurut Bonang sekaligus menjadi indikator ketersampaian informasi yang disosialisasikan oleh Rumah Cemara, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli HIV-AIDS. Kalau sebuah komunitas atau klub sepakbola menerima ajakan tanding, maka bisa diasumsikan informasi telah tersampaikan dengan baik.

Rumah Cemara memang memiliki tim street soccer dengan segudang prestasi. Di dalam negeri, tim ini pernah 2 kali menjuarai kejuaraan nasional yang diadakan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan di luar negeri menempati peringkat 6 di Homeless World Cup (HWC) 2011 di Paris dan peringkat 4 di HWC 2012 di Meksiko.

Penting untuk dicatat, sebagian dari pemain inti untuk HWC adalah pengidap HIV dan para pecandu napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lain) yang sedang dalam masa rehabilitasi. Ini membuktikan HIV bukan akhir dari segalanya. Jangankan sekadar untuk hidup, mau berprestasi pun asal rajin berobat juga bukan hal yang mustahil.

(up/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT