Kamis, 14 Feb 2013 15:42 WIB

Perkawinan Dini di Indonesia Marak, UU Perkawinan Perlu Direvisi

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Pekanbaru - Di UU Perlindungan Anak, yang termasuk kategori anak-anak adalah mereka yang berusia hingga 18 tahun. Sedangkan pada UU Perkawinan, seorang perempuan diperbolehkan menikah setelah usia 16 tahun, yang artinya masih termasuk usia anak. Hal ini akhirnya membuat perkawinan dini di Indonesia terus meningkat.

Hasil sementara Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan indikasi yang kurang menggembirakan dalam progres pencapaian program KB (Keluarga Berencana). Salah satu indikator, meningkatnya angka kesuburan pada usia remaja yang ditandai dengan peningkatan Age Spesific Fertility Rate (ASFR) 15-19 tahun dari 35 menjadi 48 per 1.000 wanita. Jumlah pasangan usia subur (PUS) muda baik di perkotaan maupun di perdesaan pun ikut meningkat.

"Berdasarkan SDKI 2012, kelahiran remaja di perkotaan meningkat. Di pedesaan turun tapi jumlahnya tetap 2 kali lipat dibandingkan perkotaan. Dua hal yang mempengaruhi adalah banyaknya pernikahan dini atau kecelakaan seks (hubungan seks pranikah)," ujar Dr Sudibyo Alimoeso, MA, Plt Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), di sela-sela acara 'Rapat Kerja Daerah Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Propinsi Riau Tahun 2013', di Hotel Aryaduta, Pekanbaru, Kamis (14/2/2013).

Menurut Sudibyo, ada kecenderungan menurunnya usia saat melakukan hubungan seks pertama. Makin banyak remaja yang melakukan hubungan seks pranikah dengan usia semakin muda.

"Untuk itu, saya dan PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) mendesak agar UU Perkawinan direvisi. UU Perkawinan kan minimal usia menikah 16 tahun, padahal UU Perlindungan anak 18 tahun masih kategori anak. Itu gimana anak-anak kawin dengan anak-anak," tutur Sudibyo.

Sudibyo menjelaskan dengan tingginya angka kelahiran remaja, maka masa reproduksinya akan semakin panjang pula. Pada akhirnya, kondisi ini akan turut menyumbang tingginya jumlah penduduk di Indonesia.

Selain itu, perkawinan dini juga akan meningkatkan risiko kematian ibu dan anak. Belum lagi risiko perceraian dan sosial ekonomi.

"Secara kesehatan, idealnya umur minimal usia 20 tahun karena organ reproduksi semuanya sudah siap. Tapi jangan sampai lewat 35 tahun karena juga risiko tinggi untuk kematian ibu saat melahirkan dan persalinan," tutup Sudibyo.



(mer/vit)