Jumat, 22 Feb 2013 18:31 WIB

Risiko Sakit Gula Bisa Dilihat dari Pilihan Rasa Makanan yang Disukai

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Bukan hanya anak kecil saja yang ogah-ogahan makan sayur, ada juga orang dewasa yang mengalaminya. Sebaliknya ada orang dewasa yang ketagihan makan cokelat atau permen gula layaknya anak kecil. Ketika melihat kondisi seperti itu, banyak orang yang berpikir mungkin itu hanya soal pilihan rasa. Tapi jangan salah, menurut sebuah studi baru pilihan rasa itu ikut memprediksi risiko penyakit jantung dan diabetes seseorang di masa depan.

Peneliti memperoleh kesimpulan tersebut setelah mengamati pola makan 196 partisipan kemudian mengukur indeks massa tubuh, lingkar pinggang dan tekanan darah mereka.

Kemudian setelah preferensi rasa setiap partisipan dinilai satu-satu, barulah peneliti dapat mengelompokkan partisipan ke dalam empat kelompok: supertaster (partisipan yang benci rasa pahit), sweet-liker (partisipan yang suka rasa manis), partisipan yang suka pahit dan manis, serta partisipan yang tidak suka keduanya.

Dari situ peneliti dapat menyimpulkan bahwa partisipan yang tergolong supertaster dan sweet-liker cenderung berisiko tinggi memiliki sindrom metabolik atau sekumpulan faktor risiko (resistensi insulin, berat badan berlebihan dan tekanan darah tinggi) yang membuat seseorang rentan terserang penyakit jantung, stroke dan diabetes) dibandingkan partisipan yang tidak termasuk ke dalam dua kelompok tersebut.

Lagipula si supertaster dan sweet-liker cenderung lebih sedikit mengonsumsi serat tapi lebih banyak mendapatkan asupan kalori dari minuman seperti soda daripada partisipan yang suka manis sekaligus pahit.

"Studi ini menduga hal itu karena sweet-liker lebih banyak mengonsumsi makanan manis, sedangkan supertaster cenderung menghindari sayur-sayuran. Jadi jika Anda termasuk ke dalam keduanya maka pastinya Anda akan lebih memilih makan makanan manis yang tak sehat ketimbang makanan sehat seperti sayuran," tandas peneliti Gabrielle Turner-McGrievy, Ph.D., M.S., R.D., asisten profesor dari University of South Carolina, AS.

Tapi anehnya, peneliti menemukan partisipan yang tidak termasuk ke dalam supertaster maupun sweet liker juga lebih berpeluang mengidap sindrom metabolik ketimbang partisipan yang hanya termasuk ke dalam salah satu kelompok saja. Kok bisa?

"Bagi mereka, makanan apapun seringkali terasa hambar sehingga mereka jadi lebih cenderung merasa kenyang dan karena tak bisa merasakan yang manis-manis, mereka jadi lebih banyak makan makanan berkalori tinggi seperti daging dan keju," terang Turner-McGrievy seperti dilansir dari menshealth, Jumat (22/2/2013).

Di masa depan, peneliti berharap studi yang telah dipublikasikan dalam Journal of Food Science ini dapat memberikan panduan bagi para ilmuwan untuk merancang pola makan atau asupan nutrisi yang tepat bagi setiap orang, terutama didasarkan pada pilihan rasa masing-masing individu.



(vit/vit)