Rabu, 06 Mar 2013 19:51 WIB

Stres di Ibukota Bisa Picu Peningkatan Penggunaan Narkoba

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Dalam pemberitaan akhir-akhir ini kerap terdengar kasus penyalahgunaan narkoba. Kalangan masyarakat biasa hingga artis seolah tak luput dari paparan obat terlarang ini. Stres yang dialami warga Ibukota ditengarai bisa meningkatkan penggunaan narkoba.

"Jakarta dulu macetnya tidak separah sekarang. Sekarang ini macetnya luar biasa. Itu merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan stres. Sehingga penggunaan obat-obatan (narkoba, -red) meningkat," ujar Direktur Bina Keswa Kemenkes RI, dr Herbert Sidabutar.

Hal itu disampaikan dia dalam acara simposium yang bertajuk 'Perkembangan Terkini Penyalahgunaan Napza di Masyarakat Perkotaan' di Auditorium RS Jiwa Soeharto Heerdjan, Jl Prof Dr Latumenten No 1, Jakarta Barat, Rabu (6/3/2013).

dr Herbert mengutip data yang pernah dipaparkan oleh Direktur Medik dan Keperawatan RS Jiwa Soeharto Heerdjan, dr Reza, di mana Jakarta merupakan kota dengan angka gangguan kesehatan jiwa tertinggi. Prevelensi nasional pada gangguan jiwa berat usia di atas 15 tahun adalah sekitar 2.03 persen.

Gangguan kesehatan jiwa yang dialami beberapawarga Jakarta antara lain dikarenakan kemacetan dan tekanan pekerjaan. Penggunaan obat-obatan terlarang juga dituding sebagai penyebab gangguan kesehatan kejiwaan.

Menurut dr Herbert, penggunaan narkoba juga memiliki tren. "Diawali dari tahun 1970 dikenal dengan nama morfin atau heroin, setahun kemudian mulai bergeser yang paling banyak dipakai yaitu barbiturat, benzodiazepin dan alkhohol (3 in one)," terangnya.

Lalu tahun 1990, narkoba masuk ke kelab-kelab malam, dan orang-orang mulai menggunakan ekstasi diikuti heroin. Sampai sekarang heroin pun tetap dipakai namun angkanya diperkirakan mulai menurun.

"Dan yang sekarang meningkat adalah sabu-sabu lalu yang paling bertahan hingga saat ini adalah ganja," terang dr Herbert.

Sesuai dengan Undang-undang No 35 tahun 2009 tentang Narkotika, bahwa yang disebut narkotika adalah zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menimbulkan perubahan kesadaran, hilangnya perasaan, hilangnya rasa sakit dan menyebabkan ketergantungan.

Terkait amphetamine yang digunakan efeknya sebagai obat pelangsing, sebelum ada UU 35/2009 masuk ke dalam golongan psikotropika. Namun setelah keluarnya UU tersebut, amphetamin naik ke golongan narkotika.

Amphetamine banyak dicari orang, karena efek tidak langsungnya bisa membuat naik mood (perasaan), sehingga pengguna tak mudah mudah capek atau lelah. Karena otomatis tidak membutuhkan asupan makan, maka zat ini dimanfaatkan efeknya sebagai obat pelangsing.

"Efek sampingnya tadi nafsu makan jadi berkurang. Orang pakai efeknya untuk obat pelangsing," kata dr Herbert.

Amphetamine secara legal bisa digunakan asal dengan resep dokter. Penggunaannya dikhususkan untuk ritalin atau ADHD (Attention-deficit Hyperactivity Disorder)

"Amphetamine diperuntukkan untuk anak-anak hiperaktif atau yang disebut ADHD, tapi itu pun dosisnya sangat kecil dan terkontrol," ucap dr Herbert.



(vit/vit)
News Feed