Senin, 24 Jun 2013 18:15 WIB

Sulit BAB? Tempelkan Air Es di Perut dan Air Hangat di Pantat

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: thinkstock) Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Susah buang air besar (BAB) atau sembelit bisa menyebabkan perasaan tidak nyaman di perut. Sebelum menggunakan pencahar, ada tips mudah yang bisa dipraktikkan, yakni dengan menempelkan air es di perut dan air hangat di pantat.

"Pada suatu hari, ada di antara teman kost yang mengeluh sakit perut dan beberapa hari tidak dapat buang air besar. Saya datangi kamar kost-nya. Tiba-tiba saja muncul ide dalam benak saya. Saya berteori ketika itu, bahwa apa yang dialaminya adalah karena tekanan di dalam saluran pencernaannya terlalu rendah untuk mendorong keluar sisa-sisa makanan dalam ususnya. Maka perlu dicari cara agar tekanannya menjadi tinggi, setidaknya bagian atas ususnya perlu dibuat bertekanan lebih tinggi daripada bagian bawahnya," jelas dr. Teguh Haryo Sasongko, PhD, kepada detikHealth, seperti ditulis pada Senin (24/6/2013).

Bagaimana caranya? dr Teguh langsung ingat salah satu teori fisika yang mengatakan bahwa jika suhu di suatu tempat tinggi maka tekanannya rendah dan jika suhunya rendah maka tekanannya tinggi. Ia pun mempraktikkan teori tersebut untuk memperlancar BAB.

"Maka saya minta seorang teman lain untuk membawa botol berisi air dingin dari lemari es dan botol lain berisi air hangat. Botol berisi air dingin saya tempelkan pada perutnya dan botol berisi air hangat saya tempelkan pada pantatnya," lanjut dokter yang kini dikenal sebagai ahli genetika molekuler di Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia.

Dengan cara tersebut, dr Teguh ingin membuat tekanan pada bagian atas ususnya menjadi lebih tinggi daripada bagian bawah ususnya. Benar saja, dalam waktu sekitar 5 menit kemudian, sang teman langsung 'ke belakang' dengan lancar dan berterima kasih kepadanya.

Teori fisika dan tips memperlancar BAB ini rupanya telah membuat seorang Teguh Haryo Sasongko mantap melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Awalnya, ia sendiri tidak memiliki kecenderungan khusus akan kuliah di mana waktu lulus SMA. Waktu itu, tahun 1996, targetnya adalah dapat lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri (UMPTN) dan berkuliah di fakultas favorit di universitas favorit.

Tapi keluarga, terutama sang ayah, berkeinginan agar ada di antara keluarga yang menjadi dokter. Keinginan tersebut tentu tidak diterima begitu saja, karena saat itu Teguh muda juga tertarik dengan jurusan informatika di ITB (Institut Teknologi Bandung).

"Tapi saya pikir juga, kenapa tidak dengan kedokteran? Jadi kedua pilihan ini sama-sama saya pertimbangkan ketika itu," ujar dr Teguh.

Peristiwa tersebut sangat dikenang dr Teguh hingga sekarang. Sejak saat itu, ia pun mantap memutuskan berkuliah di kedokteran. dr Teguh meraih gelar sarjana kedokterannya dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dan kemudian melanjutkan studi di bidang Genetika Molekuler, Universitas Kobe, Jepang. Kini ia bekerja sebagai ahli genetika molekuler, peneliti, sekaligus pengajar di Human Genome Center, School of Medical Sciences, Universiti Sains Malaysia.



(mer/vta)
News Feed