Jumat, 05 Jul 2013 17:00 WIB

62 Persen Ibu Lebih Suka Diskusikan Hasil Tes Kanker Payudara dengan Anak

- detikHealth
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Setelah menjalani check-up atau tes penyakit tertentu, wanita selalu memberitahukan hasilnya pada orang-orang terdekat demi mendapat dukungan. Sebuah studi pun mengatakan ibu-ibu yang baru saja menjalani tes kanker payudara lebih suka mendiskusikan hasilnya dengan anak-anak mereka.

Studi ini melibatkan 221 ibu yang baru saja menjalani tes untuk mengetahui ada tidaknya mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, yang dapat meningkatkan risiko kanker payudara pada seseorang.

Benar saja, sebulan pasca menerima hasil tes, 62 persen partisipan mengaku memberitahukan hasil tes tersebut kepada anak-anaknya (dengan range usia mulai 8 hingga 21 tahun). Namun hal ini terjadi jika hasil tesnya negatif atau kurang meyakinkan, dan jika anak-anaknya telah berusia 13 tahun ke atas.

"Hasil tes yang negatif dilihat para ibu sebagai 'kabar gembira' sehingga dapat mengurangi kekhawatiran anak-anaknya," tandas peneliti Kenneth Tercyak, direktur pusat riset pencegahan perilaku dari Lombardi Comprehensive Cancer Center, Georgetown University, AS.

"Sebaliknya wanita yang tidak berbagi hasil tes dengan anak-anaknya berpikir bahwa anak-anaknya belum cukup dewasa untuk menelaah informasi itu. Mereka mungkin memutuskan untuk membagikan informasi itu jika waktunya sudah tepat," tambahnya.

Dari situ Tercyak dan rekan-rekannya berkesimpulan bahwa sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan orangtua untuk memutuskan memberitahu anak-anaknya terkait informasi seperti hasil tes kanker atau tidak diantaranya: usia atau tingkat kedewasaan si anak, apakah orangtua pernah terlibat dalam perbincangan serupa sebelumnya atau tidak (mungkin terkait kematian saudara akibat kanker), dan apakah anak-anak melontarkan sejumlah pertanyaan tentang risiko kanker orangtuanya maupun diri mereka sendiri.

"Ini bukan soal benar dan salah, ini adalah pilihan masing-masing keluarga untuk memutuskan apa yang harus mereka lakukan dan kapan. Tapi yang jelas ini bukanlah pilihan yang mudah," kata Tercyak seperti dilansir Huffingtonpost, Jumat (5/7/2013).

Namun studi yang sama juga menemukan bahwa ibu-ibu yang berbagi hasil tes dengan anak-anaknya ini merasa lebih puas dengan keputusannya, dibandingkan ibu-ibu yang tetap merahasiakan informasi tersebut.

Yang perlu diperhatikan adalah anak-anak yang memiliki ibu dengan mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 berisiko 50 persen lebih tinggi untuk mewarisi mutasi yang sama. "Jadi mungkin para ibu khawatir jika mereka mendiskusikan risiko kanker mereka akan menyebabkan si anak cemas atau gelisah, apalagi tak ada opsi pencegahan yang dapat mereka lakukan," tutup Tercyak.



(up/up)