Selasa, 06 Agu 2013 12:56 WIB

Gerakan Tangan, Isyarat untuk Anak-anak Agar Lebih Mudah Belajar

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Menggerakkan tangan pada anak-anak tak hanya berguna saat mereka akan membuat garis atau menulis. Tapi, dengan anak-anak sering menggerakkan tangan untuk digunakan sebagai isyarat, kegiatan ini bisa meningkatkan kemampuan belajar mereka.

Penelitian yang dipublikasikan dalam journal Developmental Psychology menunjukkan bahwa anak-anak prasekolah dan TK yang secara alami menggerakkan tangan mereka untuk menunjuk sesuatu atau memperlihatkan apa yang mereka coba lakukan, memiliki kontrol diri, kemampuan berkomunikasi, dan kematangan kognitif yang lebih baik.

Kesimpulan tersebut didapat para ilmuwan setelah menguji anak-anak yang diperintahkan memilah benda sesuai dengan perubahan kriteria. Bahkan, pada orang dewasa, akan sulit untuk berpindah dari satu obyek ke obyek lain karena otak mengotomatisasi beberapa aspek belajar untuk mengoptimalkan efisiensi.

Setalah mempelajari sesuatu, tantangannya yaitu bagaimana mengingat pelajaran itu serta terhambatnya respons refleksif yang dilakukan. Oleh karena itu, dengan mengembangkan kebiasaan respons refleksif melalui pergerakan tangan, akan mempermudah anak-anak untuk mempelajari sesuatu.

Pada percobaan tersebut, 41 anak usia dua sampai enam tahun harus menempatkan kartu di nampan. Dalam satu putaran, mereka harus mencocokkan gambar kelinci biru atau merah dengan warna perahu. Kemudian mereka harus mengurutkan kartu berdasar obyeknya.

Pada tes lainnya, anak-anak harus membedakan beruang kuning besar dan kecil dari segi ukuran dan posisi gambar pada kartu. Selama tes dilakukan, secara naluriah anak-anak menggunakan gerakan tangan untuk membimbing mereka.

Gerakan memutar tangan dilakukan untuk melihat orientasi arah gambar beruang pada kartu. Selain itu, saat merasa melakukan hal yang tepat, mereka akan menempelkan ujung telunjuk dengan ibu jari hingga membentuk lambang 'OK'.

"Studi kami menunjukkan bahwa isyarat tangan bisa membantu anak-anak untuk berpikir," kata penulis utama studi, Patricia Miller, profesor psikologi di San Francisco State University, seperti ditulis Time, Selasa (6/8/2013).

Selain itu, ia menemukan bahwa isyarat tangan memiliki pengaruh kuat terhadap keberhasilan performa anak-anak dalam menyelesaikan tes terlepas dari umur mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak meningkat seiring dengan umurnya jika memang sudah dibiaskan membangun kebiasaan isyarat tangan sejak dini.

"Ini bukan hanya apa yang terjadi di dalam kepala berhubungan dengan bagaimana anak-anak belajar melakukannya tapi juga bagaimana mereka mengekspresikannya dengan tubuh mereka," kata Sian Beilock, profesor psikologi di University of Chicago.

Gerakan balita bisa diartikan sebagai gerakan sekilas proses kerja otak karena mereka mencari cara untuk mengerahkan kontrol kognitif yang diperlukan guna menyelesaikan tugas. Untuk memastikan apakah gerakan tangan menandakan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi, Miller dan timnya meminta balita menjelaskan apa yang mereka lakukan.

Ternyata kemampuan anak menjelaskan secara verbal tidak bisa diprediksi melalui gerakan tangannya. Tapi, dalam dalam beberapa tes yang menonjolkan perubahan objek, isyarat tangan cukup membantu balita menyelesaikan tugasnya.

Penelitian ini adalah yang terakhir mengeksplor bagaimana pergerakan tubuh menjadi cara dasar untuk membangun pola pikir. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa anak yang lebih tua akan lebih mudah belajar matematika dengan menggunakan isyarat tangan. Penelitian Miller ini dianggap sebagai perbaikan dalam kinerja matematika.

Hasil studi ini juga berimplikasi pada penggunaan isyarat tangan untuk membantu anak-anak dengan gangguan perkembangan, misalnya autisme, untuk berkomunikasi dan berpikir. "Dalam beberapa hal, perilaku motorik mungkin berhubungan dengan perilaku verbal," ujar Miller.

Jika benar, penggunaan isyarat tangan untuk meningkatkan kontrol diri bisa membantu anak untuk mengelola perilaku adiktif. Seperti dalam studi sebelumnya bahwa dengan memperlambat orang menekan tombol komputer untuk taruhan, jumlah perjudian bisa berkurang.

Temuan lain menunjukkan bahwa mahasiswa Belanda yang menahan diri untuk tidak menekan tombol saat melihat gambar bir, intensitas minum alkohol mereka berkurang. Temuan ini menunjukkan dengan mengendalikan perilaku, kebiasaan kita bisa diubah.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak hanya pikiran yang mempengaruhi tubuh kita, tapi tubuh juga bisa mempengaruhi apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita belajar," kata Beilock.

(vit/vit)