Rabu, 07 Agu 2013 13:07 WIB

Shopaholic Termasuk Gangguan Jiwa, Benarkah?

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta - Shopaholic merupakan sebutan bagi seseorang yang sangat suka berbelanja, namun sudah lebih dari batas normal. Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh para peneliti di San Francisco State University menunjukkan beberapa sebab di balik perilaku belanja yang menyimpang ini, salah satunya berkaitan dengan psikologis.

"Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa shopaholic cenderung memiliki nilai-nilai materialistis," ungkap Ryan Howell, profesor psikologi di SF State University, seperti dilansir Medical Daily, Rabu (7/8/2013).

Studi ini tidak mengaitkan antara shopaholic dengan beberapa faktor seperti jenis kelamin, kepribadian, usia, atau pendapatan. Studi ini justru menghubungkan antara shopaholic dengan manajemen kredit yang buruk. Sebab sebagian besar shopaholic tidak membayar tagihan kartu kredit tepat waktu dan tidak memperhatikan laporan tagihan mereka.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa ini mungkin karena kartu kredit memungkinkan orang untuk membeli dan berbelanja tanpa melihat atau menyerahkan uang fisik. Inilah yang menurut para peneliti membuat pola pikir shopaholic berbeda jika dibandingkan dengan mereka yang berbelanja tanpa kartu kredit.

Oniomania adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan shopaholism atau orang yang belanja kompulsif. Onios adalah bahasa Yunani yang berarti 'dijual' dan mania berarti 'kegilaan'. Istilah ini awalnya digunakan oleh psikiater pada awal abad ke-20. Tidak banyak penelitian telah dilakukan mengenai oniomania dibandingkan dengan kecanduan narkoba dan alkohol, tetapi dalam beberapa dekade terakhir ini dunia psikologi telah melakukan cukup banyak diskusi mengenai shopaholic.

Dalam sebuah studi tahun 2005 di Kroasia, mereka menemukan bahwa shopaholic seringkali dipengaruhi oleh suasana hati, kecemasan, atau gangguan makan. Mereka juga berhasil mengobati seorang perempuan shopaholic dengan terapi kombinasi fluvoxamine, antidepresan, dan psikoterapi.

Studi The SF State University bertanya pada 1.600 orang tentang pengelolaan uang, kebiasaan belanja, dan apakah mereka materialistis atau tidak. Sebagian besar shopaholic berkata bahwa mereka mendapat kesenangan tersendiri dari berbelanja.

Mereka percaya belanja dapat membantu meningkatkan harga diri mereka dan meningkatkan penampilan, reputasi atau hubungan mereka dengan orang lain. Meskipun gangguan psikologis mungkin menjadi penyebab di balik kecanduan belanja, para peneliti menyarankan para shopaholic untuk belajar mengelola kartu kredit mereka.

(vit/vit)