Kamis, 22 Agu 2013 14:48 WIB

Pria yang Mudah Cemas dan Wanita yang Teliti Lebih Susah Punya Anak

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta - Untuk perkara kesuburan, sebaiknya jangan hanya mengandalkan aspek fisik seperti kesehatan jasmani dan kualitas sperma saja. Karena butuh sepasang pria dan wanita untuk dapat menghasilkan keturunan, masalah kepribadian juga menjadi penentu keberhasilan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Norwegia menyingkap bahwa kepribadian seseorang dapat mempengaruhi kesuburannya. Orang-orang dengan kepribadian tertentu memiliki kans yang lebih besar untuk memiliki banyak anak ataupun malah sebaliknya.

Para peneliti menggunakan kuesioner dan data kelahiran di Norwegia. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, pria yang memiliki kepribadian neurotik cenderung lebih sedikit memiliki anak ketimbang pria yang lebih stabil emosinya. Kepribadian neurotik adalah kepribadian yang cenderung pencemas dan mudah gelisah.

Sebaliknya, pria dengan kepribadian yang ekstrovert, mudah bergaul, dan terbuka cenderung punya lebih banyak anak. Pada wanita, mereka yang berkepribadian teliti atau conscientious cenderung memiliki anak lebih sedikit. Ciri khasnya adalah teratur, rapi, sistematis, dan berpikir cermat sebelum bertindak.

Para peneliti yang dipimpin oleh Vegard Skirbekk mengatakan bahwa hasil temuan ini tetap konstan di seluruh generasi. Meskipun hanya meneliti statistik di Norwegia, para peneliti yakin bahwa kesimpulan ini juga berlaku di negara-negara lainnya.

"Norwegia adalah negara pemimpin dalam hal dinamika keluarga. Banyak tren yang diamati muncul pertama kali di Norwegia, misalnya meningkatnya pasangan belum menikah yang hidup bersama, angka perceraian, dan penundaan usia nikah, yang kemudian banyak diamati di bagian lain di dunia. Tentu saja masih harus dilihat apakah fenomena ini juga akan menyebar," kata Skirbekk seperti dilansir Counsel and Heal, Kamis (21/8/2013).

Menurut Skirbekk, penelitian yang dimuat European Journal of Personality ini dapat berimplikasi penting bagi dinamika populasi dunia saat tingkat kesuburan di negara-negara maju mulai menurun.

Namun Skirbekk mencatat bahwa penurunan kesuburan pada pria neurotik hanya berlaku pada mereka yang lahir setelah tahun 1957. Agaknya perubahan kesuburan pria ini disebabkan oleh norma-norma baru dalam memiliki anak. Misalnya, pasangan modern umumnya saling menguji satu sama lain lebih sebelum memutuskan membesarkan anak bersama.

(pah/vit)