Selasa, 01 Okt 2013 15:30 WIB

Ini Akibatnya Jika Obat Dextro Tunggal Diminum Saat Tidak Batuk

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Penyakit batuk dapat dengan mudah 'dikalahkan' obat dengan kandungan dekstrometorfan (dextro). Dalam waktu 30 menit setelah diminum, zat kimia ini sudah melebur dalam darah dan bekerja pada susunan saraf pusat. Sayang, kandungan ini disalahgunakan beberapa orang untuk 'fly'. Adakah dampak kesehatannya?

"Dextro akan menimbulkan kerusakan permanen pada susunan saraf pusat manusia. Kerusakan tersebut berakibat pada pelemahan koordinasi mental dan motorik yang disertai dengan kecanduan," jelas Dra. Retno Tyas Utami, M. Epid, Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI di Ruang Rapat Pimpinan BPOM RI, Jl Percetakan Negara No 32, Jakarta Pusat, Selasa (1/10/2013).

Pada orang yang sedang sakit batuk, dextro menekan saraf yang menstimulasi batuk. Karena itulah dalam waktu kurang dari satu jam, batuk yang diderita seseorang dapat reda. Tentu semua itu terjadi jika dextro dikonsumsi pada saat yang tepat dan dalam dosis yang tepat pula.

"Idealnya, untuk mengobati batuk hanya dibutuhkan dextro sebanyak 10 mg. Itu pun harus dikombinasikan dengan zat kimia lain agar dampak negatif dextro dapat diredam zat lain tersebut, misalnya paracetamol dan CTM," jelas Retno.

Dosis yang tepat untuk sediaan tablet adalah 1 tablet 3 kali sehari untuk dewasa, dan 1/2 tablet 3 kali sehari untuk anak-anak. Adapun untuk sediaan sirup adalah 5 ml 3 kali sehari untuk dewasa dan 2,5 ml 3 kali sehari untuk anak-anak.

Sayangnya, ternyata ada pula produk dextro dalam sediaan tunggal, atau tanpa kombinasi zat lain. Dextro tunggal ini dapat menekan saraf pusat tanpa diredam oleh zat kimia lain. Peredaran dextro tunggal inilah yang kini menjadi permasalahan di masyarakat.

Harganya yang cukup murah dan mudah didapatkan di apotek mana saja, membuat dextro sering disalahgunakan orang sebagai obat pereda stres. Konsumsi dextro yang berlebihan, hingga kini telah menyebabkan ribuan orang mengalami gangguan mental bahkan ada yang kehilangan nyawa.



(vit/up)