Bukan Sekadar Seru, Ini Istimewanya Main Ayunan di Mata Psikolog

Laporan dari Amsterdam

Bukan Sekadar Seru, Ini Istimewanya Main Ayunan di Mata Psikolog

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 09 Okt 2013 09:36 WIB
Bukan Sekadar Seru, Ini Istimewanya Main Ayunan di Mata Psikolog
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Amsterdam -

Ada yang menarik dalam kunjungan ke Schreuder Institute di Amsterdam, baru-baru ini. Beberapa murid setingkat SD duduk di sebuah ayunan panjang yang tergantung di langit-langit ruang kelas, lalu seorang temannya mengayunkannya sekuat tenaga.

Tidak ada yang menjerit ketakutan meski ayunan itu berayun begitu kencang. Semua berteriak gembira, sepertinya malah minta diayun lebih kencang. Setelah puas, yang semula diayun berganti posisi menjadi pengayun. Begitu seterusnya dan semuanya terus tertawa.

Pemandangan ini tampak di sebuah kelas, semacam kelas olahraga, di Schreuder Institute. Sekolah setingkat TK dan SD ini terletak di seberang Museum Van Gogh dan Rijkmuseum, di Kota Amstredam, Belanda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepintas memang tidak ada yang istimewa selain ukuran ayunannya yang cukup besar sehingga bisa diduduki 5 anak sekaligus. Selebihnya, ayunan adalah mainan standar yang ada di sekolah manapun, termasuk hampir semua sekolah di Indonesia.

Namun di balik serunya bermain ayunan, psikolog anak Anna Surti Ariani melihat hal yang istimewa dari permainan ini. Menurutnya, ayunan seperti yang ditemuinya di Schreuder Institute kerap digunakan sebagai alat terapi.

"Permainan ini merangsang sensorik vestibular, yang hubungannya dengan keseimbangan," kata Anna yang juga kerap disapa Nina, dalam kunjungan ke Amsterdam bersama wartawan atas undangan PT Sari Husada, seperti ditulis Rabu (9/10/2013).

Bukan cuma melatih keseimbangan, rangsangan pada sensorik versitbular juga akan berpengaruh pada perilaku. Menurutnya, anak-anak yang terlatih keseimbangannya akan lebih cekatan mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga.

"Anak tersebut menjadi lebih pemberani," lanjut Nina.

Tak heran jika murid-murid Schreuder Institute cukup berani menyampaikan protes saat beberapa wartawan membidikkan kamera ke arah mereka. Beberapa murid yang merasa tidak nyaman diambil gambarnya, secara spontan langsung mendekat, berkacak pinggang sambil berujar, "No picture! Please, no picture!"

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads