Kamis, 14 Nov 2013 15:15 WIB

Ini Cara Singapura dan Vietnam Atasi Diabetes, Bagaimana dengan Indonesia?

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Sebagai bagian dari ASEAN Federation of Endocrine Societes (AFES), tujuh negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki kesempatan untuk saling tukar informasi tentang kebijakan kesehatan di negara masing-masing. Dalam Kongres AFES 2013, Singapura dan Vietnam berbagi informasi mengenai kebijakan mengatasi diabetes.

"Dalam Kongres AFES yang didukung oleh The International Society of Endocrinology (ISE) kali ini, dibahas mengenai kebijakan pemerintah negara Singapura dan Vietnam dalam penanganan diabetes, kita berharap dapat memperoleh masukan penting," ujar Dr dr Imam Subekti, SpPD-KEMD, selaku Ketua Panitia Kongres AFES 2013, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (14/11/2013).

Dalam abstrak presentasinya, Lee Chung Horn, MD, Singapore Duke-NUS Graduate Medical School, mengungkapkan bahwa pada Juli 2011, The National University Hospital (NUH) dan Frontier Healthcare meluncurkan kolaborasi di mana pasien diabetes dirujuk ke Frontier Clinics selama 2 tahun.

Sistem The National Electronic Health Record (NEHR) kemudian diluncurkan untuk mengintegrasikan layanan dan meningkatkan penanganan penyakit kronis. Fase berikutnya adalah mengintegrasikan sistem NEHR pada RS pemerintah dan RS swasta.

Sedangkan pembicara dari Vietnam, Nguyen Thy Khue, President Vietnamese Association of Diabetes and Endocinology (VADE), menyebutkan bahwa sejak tahun 2011, Program Pencegahan Diabetes telah diintegrasikan dengan Program Nasional untuk Penyakit Tidak Menular. Melalui hal ini, masyarakat Vietnam bisa mengakses informasi tentang diabetes yang rutin diperbaharui oleh VADE.

VADE juga secara aktif meningkatkan penanganan diabetes dengan menyelenggarakan kursus Continuing Medical Education (CME) secara teratur kepada dokter spesialis, dokter umum, dan praktisi kesehatan lainnya.

Menanggapi hal ini, Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof Dr Ali Gufron Mukti, menjelaskan bahwa sejauh ini Indonesia juga memiliki langkah-langkah mengatasi diabetes, di antaranya melalui kegiatan Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM). Memiliki sekitar 7.000 Posbindu di seluruh Indonesia, mereka memiliki kegiatan rutin untuk deteksi dini diabetes, cek gula darah rutin, dan konseling.

Pemerintah Indonesia juga memiliki tiga strategi lain yaitu peningkatan sistem dan akses kesehatan, meningkatkan kerja sama di berbagai sektor (termasuk dengan profesi, organisasi kemasyarakatan, dan swasta), serta penguatan sistem surveilans penyakit tidak menular.

"Dengan saling berbagi ilmu, kita nanti bisa sama-sama belajar tentang kebijakan yang mungkin bisa diikuti," tutur Prof Ali.
(ajg/vit)