Senin, 02 Des 2013 16:16 WIB

Kontroversi Pekan Kondom

Kritisi Menkes, PBNU Samakan Pekan Kondom dengan Kampanye Membenci Rokok

- detikHealth
Foto: Uyung/detikHealth Foto: Uyung/detikHealth
Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan penolakannya terhadap Pekan Kondom Nasional. Sama seperti kampanye membenci rokok, sosialisasi kondom dengan alasan kesehatan dinilai manipulatif jika tidak didasari niat mulia.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua PBNU, Muhammad Sulton Fatoni, dalam rilis yang dikirim kepada wartawan. Dalam rilis itu pula, Sulton mengimbau Umat Islam untuk tidak terlibat dalam Pekan Kondom Nasional.

"Sosialisasi kondom dengan dalih menyelamatkan masyarakat dari HIV dan AIDS, juga membenci rokok dengan dalih menjaga kesehatan masyarakat, itu terdengar indah, namun sesungguhnya manipulatif dan tendensius," kata Sulton seperti ditulis Senin (2/12/2013).

Ditegaskan pula oleh Sulton, sosialisasi kondom melalui Pekan Kondom Nasioal yang berlangsung 1-7 Desember 2013 bertentangan dengan ajaran agama Islam. Ia mengingatkan, pesan yang tampak baik seperti halnya sosialisasi kondom untuk mencegah HIV, kadang menipu jika tidak disertai dengan niat mulia.

Sulton mengatakan Pekan Kondom Nasional akan menambah panjang kontroversi yang dicetuskan oleh Kementerian Kesehatan di bawah pimpinan dr Nafsiah Mboi, SpA. Kebijakan kontroversial dari Menkes yang dicontohkan oleh Sulton adalah kebencian demonstratif terhadap rokok, penolakan terhadap sertifikasi halal terhadap obat-obatan, dan dukungan terhadap demonstrasi dokter yang merugikan masyarakat.

"Cobalah lebih arif dalam mengambil kebijakan, mau mendengar saran, dan bisa bekerja lebih substantif. Kami mencatat, sejak dilantik pada bulan Juni tahun 2012 lalu, apa-apa yang dikerjakan Menkes tak lain hanya sebuah kontroversi," pesan Sulton.




(up/vit)
News Feed