Nangroe Aceh Darusalam (NAD) memiliki catatan buruk tentang penyakit jantung, yang disebut-sebut paling tinggi di Indonesia. Gubernur NAD, dr Zaini Abdullah menuding para perokok sebagai biang keladinya.
"Faktor paling utama adalah perokok-perokok berat. Mohon besok ditulis besar-besar (larangan merokok), agar tidak ada yang merokok di lingkungan rumah sakit," kata Zaini saat meresmikan Cardiac Hybrid Operating Suite RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) di Banda Aceh, Selasa (25/2/2014).
Soal rokok ini pula, Wali Nangroe Aceh Malik Mahmud menyampaikan pendapat senada. Menurutnya, merokok di tempat umum memang bisa mengganggu kesehatan sehingga perlu diatur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu saja, rokok bukan satu-satunya faktor pemicu penyakit jantung dan pembuluh darah. Zainil menyebut, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat sebagai penyebab lainnya.
Direktur RSUDZA, dr Syahrul, SpS(K) mengatakan jumlah kasus penyakit jantung di Aceh adalah yang tertinggi di Indonesia. Tiap bulan, RSUDZA menangani rata-rata 60 pemasangan ring jantung, 30 bedah jantung, dan 30 kasus kelainan jantung bawaan pada anak.
"Penyakit jantung di Aceh, nomor satu di Indonesia. Morbiditasnya paling tinggi," kata Direktur RSUDZA, dr Syahrul, SpS(K) dalam sambutannya di acara tersebut.
(up/vit)











































