Jumat, 28 Feb 2014 16:04 WIB

Ruang Kerja yang Kurang Privasi Sebabkan Karyawan Lebih Mudah Sakit

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi tubuh saja, tetapi juga dipengaruhi kondisi lingkungan kerja. Penataan ruang yang berbeda akan memiliki efek yang berbeda pula. Ruang kerja seperti apakah yang lebih mudah memicu sakit?

Empat ilmuwan dari Universitas Stockholm mengamati data sekitar 2000 pegawai yang bekerja di tujuh kantor bertipe berbeda. Mereka kemudian memeriksa riwayat sakit para karyawan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Mereka juga meneliti jumlah hari cuti sakit yang diambil karyawan tiap tahun.

Dari penelitian itu disimpulkan bahwa bekerja di ruang kantor yang terbuka membuat karyawan lebih mudah sakit dan lebih sering mengambil cuti. Penyebabnya adalah tekanan dari sesama rekan kerja. Demikian klaim para peneliti dari Stockholm, Swedia.

Ruangan kerja terbuka membuat celah interaksi antarkaryawan terbuka amat lebar. Bahkan, terkadang seolah tidak ada batasan ruang gerak antara satu karyawan dengan karyawan lain.

Tekanan atau kecenderungan untuk berkompetisi antarkaryawan memaksa seseorang untuk tetap masuk bekerja meski tubuh sedang tidak fit. Akibatnya, karyawan lain pun menjadi berisiko tertular sakit. Di kantor yang memiliki ruang kerja terbuka, para wanita lebih sering terserang sakit dan lebih sering mengambil izin.

"Risiko paparan sakit yang signifikan ditemukan di tiga kantor dengan penataan terbuka, dalam bentuk izin sakit sementara tidak tertulis," ungkap para peneliti.

Sebuah studi terpisah yang dilakukan oleh Universitas Arizona menjawab pertanyaan mengapa seorang karyawan yang sakit dapat memengaruhi seluruh kantor.

Ketika seorang karyawan yang sakit memaksakan diri untuk datang, lebih dari separuh benda di kantor yang biasa disentuh akan terinfeksi oleh virus. Beberapa titik yang sangat digemari oleh bakteri antara lain telepon, meja kerja, kenop pintu, mesin fotokopi, tombol lift, dan kulkas milik kantor.

Ilmuwan Stockholm juga menemukan bahwa tipe ruang kantor turut menentukan siapa yang lebih sering sakit, apakah karyawan pria atau wanita.
Pada kantor bertata ruang fleksibel, yakni kantor dengan beberapa ruang tertutup dan terbuka, karyawan laki-laki lebih sering sakit dibanding karyawan perempuan. Rata-rata hari cuti sakit yang diambil lebih dari delapan hari.

Untuk izin sakit dalam waktu lama, risiko lebih besar ditemukan pada karyawan wanita yang bekerja di kantor besar bertata ruang terbuka. Total cuti sakit yang diambil rata-rata adalah 6 hari kerja.

Mengapa kondisi kantor yang berbeda dapat menyebabkan taraf kesehatan yang berbeda pula?

Peneliti yakin, kurangnya privasi adalah pemicunya. Tidak hanya itu, karakteristik pekerjaan seperti kurangnya otonomi dan kebebasan juga turut berkontribusi. Faktor lain seperti terekspos suara-suara yang tidak diinginkan, kurangnya privasi visual, dan keadaan yang tidak memungkinkan untuk menguasai ruangan secara pribadi juga turut memengaruhi.

Tim tersebut mengimbau untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai isu kesehatan karyawan. Klaim mereka, studi besar selama dua tahun perlu dilakukan untuk meneliti efek kesehatan dari kantor bertata ruang terbuka. Demikian dilansir Daily Mail, dan ditulis pada Jumat (28/2/2014).



(vit/vit)
News Feed