Jumat, 07 Mar 2014 14:16 WIB

Pelajaran Berharga Kasus Pembunuhan Sara yang Dilakukan Sepasang Kekasih

- detikHealth
Ade Sara
Jakarta - Kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto (19) oleh Ahmad Imam Al-Hafitd (19), dan Assyifa alias Sifa (19), menarik perhatian banyak pihak. Tak disangka mantan kekasih dan teman SMA tega melakukan perbuatan ini.

Para pelaku yang termasuk sebagai orang berpendidikan tega melakukan hal sekeji itu. Pelajaran penting apa yang bisa diambil dari kasus ini? Para psikolog menilai salah satu penyebab para pelaku melakukan hal keji tersebut karena tidak dapat mengontrol diri. Kurangnya pendidikan emosional membuat mereka tidak dapat mengontrol emosi dan nekat melakukan apapun yang terlintas di dalam otak mereka.

"Kemungkinan besar kecerdasan emosionalnya rendah. Kalau mereka berpendidikan belum tentu kecerdasan emosionalnya bagus, tidak sebanding dengan kecerdasan akademiknya. Kecerdasan kognitif tidak sebanding dengan kecerdasan emosional," jelas Ratih Zulhaqqi. M.Psi. psikolog anak dan remaja, saat dihubungi detikHealth pada Jumat (7/3/2014).

Ia juga berpendapat kemungkinan pelaku memiliki moral judgment yang buruk, sehingga bisa melakukan tindakan yang keji seperti itu. Karena keputusan untuk merampas hak hidup orang lain merupakan keputusan yang besar, sehingga dengan moral judgment yang buruk pelaku bisa dengan mudahnya melakukan hal tersebut. Dalam kasus ini ia melihat bahwa pelaku dikuasai emosi saat melakukan perbuatan tersebut.

Hal senada disampaikan psikolog Dr Rose Mini M.Psi. Ia juga berpendapat bahwa orang yang berpendidikan belum tentu memiliki kontrol diri yang baik. "Orang berpendidikan belum tentu kontrol dirinya bagus. Kalau masih anak-anak kan pengalaman hidupnya masih kecil, jadi kalau ada masalah dia tidak tahu bahwa ada jalan keluar lain yang lebih baik. Nah yang jadi korban ini tidak punya daya, lemah, makanya bisa disakiti," kata psikolog yang bisa disapa Bunda Romi ini.

Sekarang ini orang tua hanya mengajarkan kecerdasan akademik saja kepada anak-anak, tetapi mereka melupakan emosional anak. Padahal kecerdasan emosional juga tidak kalah pentingnya dengan kecerdasan akademis anak. Karena dengan pendidikan setinggi apapun, jika tidak dibarengi dengan kecerdasan emosional, tidak akan membuat anak menjadi lebih baik.

Hafitd dan Sifa membunuh Sara di dalam mobil Kia Visto. Pasangan sejoli itu telah merencanakan aksi pembunuhan korban itu satu minggu sebelum korban dieksekusi di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa (4/3) malam lalu. Hafitd sendiri merencanakan pembunuhan terhadap Sara karena sakit hati, korban tidak mau dihubungi lagi setelah putus. Sedangkan Sifa terlibat dalam pembunuhan itu karena cemburu pada Sara. Dia khawatir kekasihnya akan kembali ke pelukan Sara.

Di dalam mobil, mulanya mereka mengobrol biasa. Namun kemudian terjadi percekcokan saat Sara ditanya kenapa dia tidak mau dihubungi oleh Hafitd. Hafitd kemudian memukul Sara dan juga menyetrumnya dengan alat setrum hingga Sara mengerang kesakitan. Setruman Hafitd yang berkali-kali membuat Sara lemas hingga pingsan. Sifa membantu Hafitd memegangi korban dan menyumpal mulut Sara dengan koran setelah pingsan.

Berdasarkan hasil autopsi, sumpalan koran di mulut Sifa-lah yang mengakibatkan mahasiswi Universitas Bunda Mulia (UBM) itu tewas. Setelah mengetahui korban tewas, kedua pelaku lalu membuang mayat korban di pinggir tol di Bekasi.




(vit/vit)