Senin, 17 Mar 2014 16:29 WIB

Dokter Pelaku Sunat Perempuan di Mesir akan Dibawa ke Meja Hijau

- detikHealth
Sohair al Bata'a (dok. The Guardian)
Kairo, Mesir - Tindakan female genital mutilation atau sunat perempuan sudah dilarang oleh World Health Organization (WHO). Namun ternyata kebiasaan tersebut masih sering dilakukan di beberapa negara, salah satunya adalah Mesir.

Sunat perempuan di Mesir menjadi perhatian setelah pada tahun 2013 lalu seorang remaja berusia 13 tahun meninggal setelah melakukan sunat perempuan atas dasar permintaan keluarganya. Padahal, praktik sunat perempuan di Mesir sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 2008.

Sohair al-Bata'a meninggal setelah melakukan operasi pengangkatan kutil kelamin. Laporan dokter mengatakan bahwa ia meninggal akibat reaksi tubuhnya yang ternyata alergi terhadap penicillin. Namun penyelidikan lebih lanjut mengatakan bahwa ternyata Sohair menderita pendarahan akibat proses pemotongan klitoris yang dilakukan oleh dr Raslan Fadl di kliniknya atas permintaan keluarga.

"Ini merupakan kasus yang penting. Pertama kalinya seseorang di Mesir akan diadili tentang peraturan ini. Sehingga masyarakat harus diberi contoh bahwa peraturan tentang sunat perempuan ini ada dan harus ditegakkan," papar Hala Youssef, Kepala National Population Council (NPC) yang melakukan penyelidikan terhadap praktik sunat perempuan.

NPC tidak hanya menyeret dr Fadl ke pengadilan. Ayah dari Sobair yang menyuruh anaknya melakukan sunat perempuan itu pun tak lepas dari jerat hukum. Kini mereka berdua sudah ditahan oleh polisi dan menunggu proses pengadilan berlangsung. Namun kekhawatiran akan praktik tersebut berulang masih menjadi perhatian NPC.

"Sunat perempuan ini dilakukan dengan alasan agama, padahal itu tidak benar. Sunat perempuan di Mesir merupakan budaya karena tidak hanya orang Islam saja yang melakukannya namun juga umat Kristen," lanjut Youssef.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, Youssef mengatakan bahwa praktik sunat perempuan dilakukan dengan alasan menjaga kesucian perempuan dan juga mencegah perempuan tersebut melakukan hubungan seks pra-nikah, dengan kepercayaan bahwa jika klitoris tidak dipotong, maka perempuan tersebut akan memiliki hawa nafsu yang berlebihan. Praktik ini umumnya dilakukan di wilayah dengan pendidikan dan kualitas hidup yang rendah.

Berdasarkan data UNICEF, 91 persen perempuan usia 15-49 tahun yang sudah menikah di Mesir melakukan praktik sunat perempuan, dengan 72 persennya dilakukan oleh dokter. Youssef berharap dengan diadilinya dr Fadl, hal ini akan membuka mata penduduk bahwa praktik sunat perempuan adalah salah dan tidak boleh dilakukan.

"Pekerjaan kami masih banyak, karena kasus ini tidak hanya terjadi di Kairo. Tetapi juga di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan yang masih rendah," ujar Youssef seperti dikutip dari The Guardian, Senin (17/3/2014).



(vit/vit)