Kamis, 20 Mar 2014 14:48 WIB

RS Pasti Rugi dengan Tarif INA-CBG's? 2 RS Ini Justru Untung Besar

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Perpindahan sistem pembayaran dari yang tadinya Free for Service (FFS) menjadi INA-CBG's diklaim awalnya akan sangat merugikan rumah sakit. Namun faktanya dua rumah sakit ini justru untung besar.

"Pelayanan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional -red-) kami alhamdulillah lancar," ujar Direktur RS Al Islam Bandung, dr H. Sigit Gunarto, SpKFR, dalam konferensi pers yang diadakan di Media Center BPJS Kesehatan, Jl Letjen Suprapto Cempaka Putih, Jakarta, Kamis (20/3/2014).

"Kami sejak 6 bulan sebelum dimulainya JKN sudah melakukan persiapan karena memang di awal muncul isu kekhawatiran. Yang penting, kamu mengubah image seluruh karyawan tentang JKN. Kami melihat ini justru peluang," ungkap dr Sigit.

Selain itu, diakui dr Sigit dari segi pembiayaan pihaknya juga melakukan efisiensi. "Kita lihat dan catat semua kelemahan agar pelayanan JKN tidak pengaruhi kualitas kita," paparnya.

dr Ediansyah, MARS, selaku Direktur RS Annisa Tangerang, juga mengungkapkan hal yang sama. Ia mengklaim sistem INA-CBG's justru memberikan untung bagi rumah sakit yang dipimpinnya. Selain adanya pendapatan tambahan, dengan JKN jumlah pasien yang datang juga mengalami peningkatan.

"Implementasi dari Januari sampai Februari 2014 dari total 2.978 pasien rawat jalan, total billing rumah sakit Rp 410 juta dan setelah ditagihkan dengan tarif INA-CBG's justru jumlahnya Rp 505 juta. Ada pendapatan tambahan Rp 95,9 juta atau sekitar 19 persen," papar dr Ediansyah.

Sementara untuk rawat inap, dari total 569 pasien dan billing rumah sakit Rp 1,4 miliar, jumlah yang dibayarkan sesuai tarif INA-CBG's adalah sebesar Rp 2,1 miliar. "Ini berarti ada tambahan pendapatan Rp 670 juta atau sekitar 32 persen," lanjutnya.

Rumah sakit swasta kelas C yang berlokasi di Cimone, Tangerang, ini diakui dr Ediansyah juga semakin banyak menerima kunjungan pasien. Dari yang biasanya rata-rata 80 pasien per hari, kini meningkat menjadi 120 pasien per hari. Ini berarti kualitas rumah sakit mendapatkan respons positif dari pasien.

"Kami sudah melakukan persiapan dari Maret 2013, cukup panjang memang. Tapi kami percaya persiapan yang baik mudah-mudahan hasil akhirnya juga baik," papar dr Ediansyah.




(ajg/vit)