Rabu, 26 Mar 2014 13:17 WIB

Sayang, Masih Ada Pasien Tuberkulosis yang Tidak Tuntaskan Pengobatan

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menyebar melalui bakteri yang dilepaskan ke udara melalui bersin atau batuk orang lain. TB bukan hanya memberikan dampak pada masyarakat Indonesia saja, tetapi juga masyarakat dunia. Menurut laporan World Health Organization (WHO) pada 2012, lebih dari setengah juta orang terkena TB.

"Penyakit TB ini sebenarnya bisa ditangani, diobati, dan disembuhkan. Tetapi ada sekitar 30% pasien yang masih belum terdiagnosa. Kebanyakan pasien juga tidak menindaklanjuti dan tidak menuntaskan pengobatannya," kata Mr. Derrick Brown, Acting Mission Director untuk U.S. Agency for International Development (USAID), saat hadir dalam acara 'Putus Mata Rantai TB dengan Pengobatan Tuntas' dalam rangka memperingati hari TB seduani, di Epicentrum Walk, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (26/3/2014)

Di Indonesia, walapun angka pasien TB sudah turun, tetapi angka kejadian penyakit TB masih tetap ada. Salah satu penyebabnya adalah jumlah penduduk Indonesia yang semakin bertambah banyak setiap tahunnya. Karena masih banyaknya kasus TB yang terjadi, pemerintah Indonesia berkerja sama dengan Nahdlatul Ulama dan Amerika Serikat untuk mengendalikan angka penyakit TB.

Sebagai bentuk nyata dari kerja sama tersebut, pada tahun 2010 USAID membentuk program Community Empowerment of People Against Tuberculosis (CEPAT). Program ini dibuat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai penyakit Tuberkulosis dan juga untuk menangani penyakit ini.

"Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, kami merasa perlu ikut untuk menangani masalah TB ini. Mengingat masih besarnya jumlah penderita TB di Indonesia. Dengan ikut serta dalam program CEPAT ini, NU menjawab tantangan partisipasi komunitas untuk membantu menangani TB," kata Dr. KH. Said Aqie Siradj, MA, Ketua PBNU yang turut hadir pada acara tersebut.

"Kerja sama dengan NU dan USAID ini dilakukan untuk menangani penyakit TB. Kami mengajak masyarakat juga untuk bekerja sama untuk menangani penyakit ini. Saya percaya Indonesia bisa menangani penyakit ini dengan baik," Prof dr. Tjandra Yoga Aditama SpP (K), MARS, DTM&H, DTCE, Dirjen Penyembuhan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, saat hadir pada acara yang sama.

Ia juga menyarankan bagi masyarakat yang mengalami batuk berdahak selama 2 bulan atau lebih, untuk segera memeriksakan diri. Jika positif terkena penyakit TB diharapkan masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas layanan kesehatan terdekat, karena obat untuk penyakit TB diberikan secara cuma-cuma. Masyarakat juga diimbau agar tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan, karena untuk menyembuhkan penyakit TB diperlukan waktu minimal 6-8 bulan.



(vit/vit)