Rabu, 02 Apr 2014 14:18 WIB

World Autism Day, Jangan Bedakan Penyandang Autis dengan Orang Lainnya

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Autisme merupakan gangguan perkembangan menetap, yang sampai saat ini belum diketahui penyebab pastinya. Ada pendapat yang mengatakan antara lain neurobiologis, imunologis, dan ada juga yang mengatakan infeksi virus. Gangguan pada austisme menyebabkan adanya masalah dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada anak yang menyandang ustisme.

Angka kejadian autisme saat ini cukup memprihatinkan, ditemukan 1 per 160 anak prasekolah mengalami autisme. Demikian menurut data di Amerika Serikat. Untuk Indonesia sendiri belum ada penelitian untuk mendapatkan data pasti mengenai angka kejadian autisme. Tetapi menurut data yang didapat dari fasilitas layanan kesehatan angka kejadian autisme di Indonesia cukup tinggi.

"Menurut data fasilitas layanan kesehatan yang ada, dari 6.600 kunjungan anak ke instalasi kesehatan jiwa anak dan remaja rumah sakit jiwa Soeharto Heerdjan Jakarta saja, pada tahun 2013, 15 persen di antaranya merupakan penyandang autis," papar dr Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam acara temu media dalam rangka memperingati 'Hari Peduli Autisme Sedunia Tahun 2014', di Kementerian Kesehatan RI, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, pada Rabu (2/4/2014).

Angka gangguan yang tinggi tersebut mengisyaratkan pentingnya penanganan yang serius menyangkut aspek pendidikan dan juga pekerjaan yang akan menopang hidup para penyandang autis tersebut. Maka dari itu pada pada tanggal 18 Desember 2007 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengeluarkan Resolusi PBB No. 62/139 yang menetapkan tanggal 2 April sebagai Hari Peduli Autis Sedunia.

Peringatan 'World Austism Day' tersebut dibuat dengan tujuan agar dunia lebih memperhatikan masalah autisme ini, dan agar negara-negara anggota melakukan tindakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang autisme agar masyarakat melakukan diagnosis dini dan intervensi yang tepat.

"Para orang tua jangan menganggap anaknya berbeda dengan yang lain. Jangan karena anaknya autis sehingga dibedakan, begitu juga dengan masyarakat, jangan membedakan penyandang autisme," kata dr Suzy Yusna dewi, SpKj(K) dari Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, saat hadir pada acara yang sama.

Dengan adanya peringatan 'Hari Peduli Autisme Sedunia' ini, diharapkan kerja sama dari semua pihak untuk menangani autisme. Dengan demikian akan membuat beban orang tua dan masyarakat menjadi lebih ringan, karena adanya kepedulian kepada anak dengan autisme.

(vit/vit)