Kamis, 17 Apr 2014 14:47 WIB

Kisah Perokok Eks Pecandu Narkoba: Merokok Lebih 'Nyandu' dari Kokain

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock) Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Meyesap rokok dan obat-obatan terlarang sama-sama bisa menyebabkan kecanduan. Sekali dicoba dan suka, dua kebiasaan itu akan sangat sulit dihentikan. Menyoal yang lebih mudah disembuhkan, perokok sekaligus mantan pecandu ini punya kisahnya sendiri.

"Dulu, orang-orang yang ada di sekitar saya merokok, semuanya. Ada asbak di setiap ruangan di rumah," ujar Barry Blackwell, pria berusia 60 tahun yang telah merokok lebih dari lima puluh tahun, mengenang masa kecilnya.

Lelaki pemilik studio bergaya kuno itu tumbuh di daerah penghasil tembakau di Carolina Utara. Seperti beberapa generasi sebelumnya, ia menghabiskan musim panas dengan bekerja di ladang tembakau. Tak heran jika lelaki itu sudah mulai merokok saat usianya masih sangat belia, yakni delapan tahun. Saat itu ia tidak tahu-menahu sama sekali mengenai bahaya rokok.

"Saya tidak ingat di sekolah ada yang memberi tahu bahwa rokok itu buruk. Saya bahkan ingat pernah mengunjungi dokter untuk pemeriksaan rutin dan dia memeriksa saya dengan sebatang rokok di mulutnya," ujarnya.

Ibu Blackwell juga seorang perokok, tetapi wanita itu telah berhenti merokok berpuluh-puluh tahun lalu setelah mengalami nyeri pada dada. Sejak saat itu, wanita itu mulai mendorong Blackwell untuk berhenti merokok.

Blackwell mengaku, dari masa ke masa, tekanan bagi perokok seperti dirinya semakin berat. Pasalnya, semakin sedikit tempat publik yang permisif terhadap kegiatan merokok. Bahkan tahun lalu, taman di mana ia sering merokok telah berubah menjadi taman bebas rokok. Tetapi itu tidak berhasil menjauhkan Blackwell dari rokok.

Blackwell bukan tidak pernah mencoba berhenti merokok. Ia telah mencobanya tetapi tidak pernah berhasil. Pria itu justru lebih sukses pulih dari kecanduan narkoba, yang sering dianggap lebih adiktif.

"Kokain jauh lebih mudah ditolak daripada rokok," tutur pria yang berhasil sembuh dari kecanduan kokain pada tahun 1980-an lalu.

Bagi beberapa orang, kecanduan merokok memang lebih sulit dihentikan ketimbang kecanduan obat-obatan terlarang. Hal itu diamini oleh Jed Rose, pimpinan Pusat Rehabilitasi Rokok di Duke. Menurutnya, menghentikan kebiasaan merokok mungkin akan lebih sulit ketimbang melepaskan diri dari jerat narkotika.

"Kecanduan terhadap kebiasaan merokok mungkin lebih kuat daripada simtom jangka pendek dari putus obat keras," tegasnya seperti dikutip dari CNN pada Kamis (17/4/2014).

Hal itu, menurut Rose, karena setiap bagian dari kegiatan merokok akan menimbulkan sensasi tersendiri. Mulai dari menyalakan rokok hingga menghirup asap rokok, memiliki sensasi menyenangkan yang menyebabkan kecanduan.

Meski demikian, menghentikan kebiasaan merokok bukan tidak mungkin dilakukan. Beberapa perokok telah melakukannya dan berhasil. Sebut saja Todung Mulya Lubis, pengacara kondang di Indonesia yang berhenti merokok karena bosan dimarahi istrinya, dan Adrie Subono, promotor musik Indonesia yang berhenti merokok karena ingin hidup lebih lama untuk menyaksikan kelahiran sang cucu.

Sayangnya, Blackwell justru menyerah berusaha berhenti merokok. Belajar dari Blackwell, sebaiknya rokok tidak didekati sejak awal. Terlepas dari kandungannya yang berbahaya dan risikonya untuk kesehatan, kebiasaan merokok juga sangat sulit dihentikan.

(up/up)
News Feed