Jumat, 15 Agu 2014 10:32 WIB

Tengah Dikembangkan, Jam Tangan untuk Memonitor Gejala Parkinson

- detikHealth
Jakarta - Kini banyak perusahaan teknologi menciptakan alat canggih yang dapat memonitor kondisi kesehatan. Terinspirasi dari hal tersebut, yayasan Michael J Fox mencoba menggunakan sensor yang dapat dipakai di tangan untuk memonitor gejala penyakit Parkinson.

Yayasan ini telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi terkenal, Intel, untuk membekali pasien dengan jam tangan pintar. Chief Executive dari perusahaan ini pun ternyata didiagnosis terkena parkinson, demikian dikutip dari BBC, Kamis (14/8/2014). Perusahaan ini telah melakukan tes pada tahun ini dan berencana segera merilis aplikasinya agar dapat memudahkan studi dokter dalam mencari cara pengobatan yang berbeda.

Aktor Michael J Fox telah membuat yayasan ini pada tahun 2000 di New York. Yayasan ini dibuat setelah ia didiagnosis terkena degenerative neurological disorder. Walaupun penyebab pastinya belum diketahui, parkinson dipercaya terjadi karena adanya faktor gen dan lingkungan.

Gejala parkinson di antaranya tremor dan gerakan yang tidak terkontrol, termasuk ketidakseimbangan sistem koordinasi tubuh, gerakan yang melambat, kehilangan kemampuan mencium, dan kemampuan bicara dan mengunyah yang menjadi bermasalah. Diperkirakan sekitar 5 juta orang di dunia yang terkena parkinson adalah orang lanjut usia.

Todd Sherer, chief execitive dari yayasan ini menyatakan dibuatnya alat ini dapat menjadi kesempatan untuk kita mengungkapkan terobosan baru untuk penderita parkonson. "Dengan alat ini, kita dapat mengerti bagaimana pasien parkinson hidup dengan penyakitnya, bagaimana respon mereka terhadap perawatan yang dijalani, dan kebutuhan apa yang belum diberikan," ujar Sherer.

Percobaan terhadap alat ini akan dilakukan dengan memberikan alat sensor kepada 16 pasien parkinson dan 9 orang pengontrol selama empat hari. Jam yang digunakan oleh pasien dapat menampung 300 data yang direkam setiap detik, dan dapat membaca 1 GB data dari pasien.

Selama lebih dari satu periode, partisipan akan menulis catatan harian dengan menggunakan pulben dan pensil lalu menghadiri dua kunjungan klinik yang telah dirancang untuk penelitian ini. Sebagai tambahan, mereka juga akan mencatat pergerakan tubuh partisipan saat bergerak dan tidur. Langkah selanjutnya adalah merilis aplikasi yang dapat membuat pasien merekam bagaimana perasaan mereka dan bagaimana perawatan terhadap mereka.

Aplikasi ini digunakan untuk dapat mengukur kemanjuran obat dan menginformasikan tim medis saat mereka menentukan resep. Nah, percobaan untuk alat ini akan dilakukan di Boston, New York, dan Israel. "Kami masih terus mengolah datanya," ujar Ronald Kasabia, general manager dari big data solution di Intel.

Peneliti masih ingin memahami bagaimana pergerakan dan tremor yang terjadi pada pasien parkinson. Mereka masih harus mencari tahu apa yang terjadi dengan pasien dalam menit ke menit, 24 jam sehari, dan 365 hari per tahun, bagaimana tremor terjadi dan bagaimana kebiasaan tidur pasien. Intel mengatakan akan menjaga dan menganonimkan data demi keamanan privasi pasien.

Parkinson's UK menerima dengan baik penemuan ini, tapi menurutnya masih terlalu dini untuk mengetahui sejauh mana alat ini berfungsi. "Yang utama dari penggunaan alat ini adalah untuk membantu klinis membuat keputusan dan membantu orang dengan Parkinson agar mendapatkan perawatan yang baik dan menyenangkan," kata Suma Surendranath, profesional engangement manager dari yayasan ini.

(rdn/rdn)