Senin, 18 Agu 2014 09:33 WIB

Inspirasi Gadis Skoliosis

Perjuangan Ardha, Gadis Mojokerto Melawan Skoliosis 144 Derajat

- detikHealth
Ardha dan kelainan tulang punggungnya (Dok: pribadi)
Jakarta -

Didiagnosis menderita skoliosis atau bengkok tulang belakang mungkin bisa langsung meruntuhkan semangat hidup. Apalagi jika lengkungannya sudah berat hingga menjepit paru-paru, seperti yang dialami seorang gadis asal Mojokerto.

Dwi Setya Wardhani (26) alias Ardha, gadis kelahiran Mojokerto Jawa Timur mengidap skoliosis dengan kelengkungan mencapai 144 derajat. Kondisinya begitu parah, hingga tonjolan tulang belakang kelihatan jelas di dada kanan. Bisa dibayangkan, organ-organ tubuh di rongga dadanya pasti terjepit.

Saat pertama kali menyadari ada masalah dengan tulang belakang, Ardha masih duduk di kelas 2 SMP. "Dulu dia mengeluh sering pegal dan nyeri di tulang belakangnya," tutur Sri Wahyurini, ibu Ardha kepada detikHealth, seperti ditulis Senin (18/8/2014).

Selain merasakan nyeri, Ardha menurut Rini juga menunjukkan adanya perubahan fisik pada tubuhnya. Tulang belakangnya semakin bengkok dan lama kelamaan muncul tonjolan tulang di dada sebelah kanan. Setahun kemudian, barulah Ardha diperiksa dan diagnosis menyatakan Ardha mengidap skoliosis.

Dikisahkan oleh Rini, mental Ardha sempat turun mendengar kenyataan tersebut. Anak keduanya itu merasa hidupnya akan berubah total, tidak bisa lagi beraktivitas seperti sedia kala. Ketakutan terbesarnya adalah menjadi orang yang tidak berdaya dengan penyakitnya tersebut.

"Semasa SD, Ardha adalah anak yang aktif, sempat menjadi penari Bali waktu tinggal di Timor-Timur," jelas Rini mengisahkan masa kecil Ardha, yang menetap di Timor-Timur bersama keluarganya pada tahun 1985-1998.

Namun Ardha tak mau menyerah begitu saja. Dalam kondisi sakit, ia bisa menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan gelar Diploma 1 jurusan Akuntansi. Ia pun sempat mendapat tawaran beasiswa ke Yogyakarta, namun kali ini terpaksa ditolak karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan.

Sejak itu, semangat Ardha untuk bangkit dan sembuh dari skoliosis semakin berkobar. Masih dalam kondisi sakit, Ardha mencari sebanyak mungkin informasi tentang penyakitnya melalui sebuah komunitas bernama Masyarakat Skoliosis Indonesia (MSI).

Perkenalannya dengan ahli oropedi khusus tulang belakang di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr dr Rahyussalim, SpOT(K), membuka peluang bagi dirinya melakukan operasi. Keinginannya juga mendapat dukungan dari salah seorang pengurus MSI, Tri Kurniawati.

Sang ibu, Rini, awalnya khawatir dan tidak merestui keinginan Ardha untuk operasi. Cerita-cerita miring soal risiko lumpuh dan kematian pascaoperasi selalu membayangi benak Rini, di samping bayangan tentang biaya yang tentu tidak sedikit.

Adalah kebulatan tekad Arda untuk pulih yang akhirnya meluluhkan keraguan Rini. Berkat bantuan pengurus MSI dan fasilitas pembiayaan dari BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), Arda sukses menjalani operasi di RSCM 7 Agustus silam.

Kini usai operasi, kondisi Ardha mulai membaik meski masih harus terbaring lemah di ruang ICU untuk pemulihan. Pun belum bisa lepas dari ventilitator, alat yang membantunya bernapas.

Kegigihan Adrha melawan skoliosis tak cuma mengantarnya pada peluang sembuh, tapi juga membuatnya tetap produktif di tengah sakitnya. Sejumlah buku telah terbit dari tulisan pemilik nama pena Gluck Fraulein ini.

(up/up)