Rabu, 17 Sep 2014 10:34 WIB

Laporan dari Tokyo

Hadapi Serangan DBD, Begini Suasana 'Perang' Lawan Nyamuk di Tokyo

- detikHealth
Pamflet di Roppongi (Foto: Uyung/detikHealth)
Tokyo - Pamflet berisi peringatan bahaya nyamuk demam berdarah dengue (DBD) terpampang di setiap sudut kota Tokyo. Pertama sejak Perang Dunia II, negari matahari terbit ini benar-benar sedang 'perang' melawan nyamuk.

Pengamatan detikHealth saat berkunjung ke Tokyo baru-baru ini, pamflet tentang bahaya nyamuk DBD banyak dijumpai di Roppongi, salah satu pusat keramaian di kota tersebut. Selain berisi tips-tips menghindari gigitan nyamuk, pamflet tersebut juga berisi anjuran untuk segera memeriksakan diri bila mengalami gejala DBD.

Papan peringatan bahaya nyamuk juga banyak ditemukan di Yoyogi Park, salah satu hotspot yang diyakini sebagai sumber penularan DBD di Tokyo. Beberapa pasien DBD yang terkonfirmasi di Tokyo diketahui punya riwayat berkunjung ke taman sejuk dan rindang di tengah kota Tokyo ini.

Wabah DBD kali ini merupakan yang pertama kali dilaporkan di Jepang sejak Perang Dunia II. Koran terbesar di Jepang, Asahi Shinbun melaporkan sedikitnya 110 pasien terkonfirmasi DBD hingga 10 September 2014, 96 orang di Tokyo dan sisanya di beberapa perfektur lain.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk mencegah wabah ini meluas. Salain menyebar pamflet, pemerintah setempat juga melakukan penyemprotan insektisida pada radius 50 meter dari pasien yang positif DBD.

Takeshi Kurosu dari Research Institute for Microbial Disease di Osaka University mengatakan, besar kemungkinan kasus DBD di Tokyo berasal dari negara lain. Pelancong dari negara endemis yang terinfeksi DBD digigit nyamuk saat mengunjungi Yoyogi Park, lalu nyamuk tersebut menyebarkannya pada penduduk lokal.

"Kemungkinan satu orang yang terinfeksi di luar Jepang, berkunjung ke Yoyogi Park. Mungkin juga nyamuknya terbawa di tas, tapi jumlah pasien mengindikasikan kemungkinan berasal dari seseorang yang terinfeksi," kata Kurosu, dikutip dari CNN, Rabu (17/9/2014).

Pendapat lain mengatakan, merebaknya wabah DBD di Jepang merupakan salah satu dampak pemanasan global. Suhu Bumi yang menghangat membuat persebaran nyamuk Aedes Aegipty yang merupakan vektor DBD, meluas ke negara-negara dengan iklim lebih dingin.

(up/ajg)