Rabu, 24 Sep 2014 15:32 WIB

Sexomnia, Pria di Swedia Hampir Dibui 2 Tahun karena Dituduh Memperkosa

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sundsvall, Swedia -

Mikael Halvarsson hampir mendekam di penjara selama 2 tahun karena tuduhan perkosaan yang ditujukan padanya. Beruntung, ia terbebas dari hukuman karena tindakan perkosaan yang dituduhkan padanya terbukti akibat sexsomnia.

Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (24/9/2014), korban yang melapor ke polisi mengaku dirinya dipaksa untuk berhubungan seks dengan Mikael ketika keduanya kebetulan tengah tidur dalam satu ranjang pada 2 April lalu. Ia pun berhasil mengelak dan melapor polisi di pagi harinya.

Setelah tiba di tempat kejadian, polisi melihat Mikael tengah tertidur pulas. Setelah laporan korban diproses, Mikael pun menghadiri persidangan dan diganjar hukuman penjara dua tahun. Pria 26 tahun itu lantas mengajukan banding.

"Saya menderita sexsomnia sehingga apa yang saya lakukan, di mana saya dituduh melakukan pemerkosaan, itu saya lakukan secara tidak sadar dalam keadaan tidur. Saya benar-benar tidak mengingat apa yang saya lakukan," kata Mikael.

Ya, sexomnia merupakan gangguan tidur yang membuat penderitanya bisa melakukan tindakan seksual meskipun ia dalam keadaan tertidur dan tidak sadarkan diri. Sehingga, si pelaku tak sadar dengan apa yang ia lakukan.

Kondisi ini sama dengan sleep walking atau sleep talking. Untuk memperkuat banding yang diajukan Mikael, sang ibu pun bersaksi bahwa putranya memang memiliki gangguan tidur. Tak hanya itu, dihadirkan pula tim medis untuk memeriksa kondisi Mikael hingga ia pun dibebaskan dari vonis penjara 2 tahun.

Meski begitu, dr Kingman Strohl dari Cleveland Case Medical Center's Sleep Center mengingatkan tak menutup kemungkinan oknum tertentu menggunakan dalih sexomnia untuk meringankan hukumannya. Biasanya, orang dengan sexomnia saat ingin atau sedang melakukan hubungan seks tidak tanggap dengan keadaan sekitar dan aksi mereka cenderung tidak lembut karena dilakukan secara tidak sadar.

"Penderita sexomnia tidak sadar dengan apa yang ia lakukan karena dengan kata lain ia juga mengalami gangguan dalam tidurnya. Maka dari itu perlu perhatian pasangan atau anggota keluarga lain ketika pengidap sexomnia mulai beraksi, bukan malah menuduhnya yang tidak-tidak," tutur dr Strohl.

(rdn/vta)