Sabtu, 27 Sep 2014 10:00 WIB

Trauma Kompleks: Sisi Kelam Pekerja Seks Korban Trafficking

- detikHealth
Halaman 2 dari 4
1 1. Violation of Trust
Ilustrasi (Foto: Thinkstock) Ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Mawar dijual sebagai pekerja seks saat kabur ke Surabaya, karena malu dan merasa terancam di tempat asalnya. Penjualnya adalah orang yang pada awalnya dia pikir akan menyelamatkannya. Kecenderungan ini juga ditemukan pada sebagian besar korban tindak pidana perdagangan orang.

"Kebanyakan korban perdagangan orang memang berasal dari kelompok rentan. Memang punya masalah sebelumnya, dan biasanya punya pola menghindar dari masalah," kata Wulan Ayu Ramadhani, psikolog dari Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Cipayung, Jakarta Timur.

Saat kabur dari masalah, korban akan bertemu dengan agen, sebagai penyalur korban perdagangan orang, yang umumnya memang berasal dari lingkungan dekat. Bisa teman sendiri, saudara dekat, atau bahkan keluarga sendiri. Kalaupun pelakunya orang asing, terlebih dahulu mereka akan merayu korban untuk membangun kepercayaan atau 'gain trust'.

Dalam banyak kasus, para pelaku tindak pidana perdagangan orang memang berasal dari lingkaran orang-orang dekat. Di beberapa daerah di Jawa Barat seperti Indramayu misalnya, korban dijual oleh orang tuanya sendiri sebagai jaminan hutang sejak mereka masih kecil.

Para agen yang juga berperan dalam membentuk trauma kompleks. Mereka menawarkan pekerjaan sebagai jalan keluar dari berbagai masalah yang sedang dihadapi korban, namun akhirnya justru menjerumuskannya ke dalam masalah baru yang lebih pelik dengan menjualnya sebagai pekerja seks.

"Ada violation of trust di situ. Korban dikecewakan oleh orang-orang yang dipercaya bisa mengatasi masalahnya," kata Wulan.

Jerat hutang kemudian dipakai para mucikari untuk membuat para pekerja seks merasa tergantung, tidak berdaya dan akhirnya tidak pernah bisa keluar dari dunia tersebut. Bahkan dengan memanfaatkan kepercayaan korban, para agen dan mucikari mengancam akan menyebar identitas korban sebagai pekerja seks jika korban coba-coba ingin melawan.

(up/up)