Kamis, 09 Okt 2014 09:08 WIB

Perhatikan! Tak Boleh Asal Panggil 'Orang Gila' Pada Pasien Gangguan Jiwa

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Stigma negatif yang dirasakan pasien gangguan jiwa tak hanya membuat malu keluarga sehingga enggan membawa mereka berobat. Stigma tersebut juga melahirkan bullying verbal yang ditandai dengan nama-nama panggilan yang kasar seperti orang gila, sedeng, otak miring dan sebagainya.

Padahal menurut dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ, dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, sebutan seperti orang gila dan sebagainya sudah tak boleh lagi digunakan. Pasalnya tak semua orang dengan masalah kejiwaan pasti orang dengan gangguan jiwa.

"Jadi sudah nggak boleh lagi panggil dengan sebutan orang gila begitu ya. Karena ada dua, orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan kejiwaan (ODGK)," tutur wanita yang akrab disapa Noriyu tersebut di sela-sela pra peluncuran buku terbarunya "A Rookie & The Passage of The Mental Health Law; The Indonesian Story" di Bunga Rampai, Jl Teuku Cik Ditiro No 35, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (8/10/2014).

Dilanjutkan Noriyu bahwa terdapat perbedaan signifikan antara OJMK dan ODGK. ODMK adalah orang yang memang memiliki masalah kejiwaan, namun belum terdiagnosis oleh dokter sebagai penyakit. Orang-orang ini memang mempunyai potensi untuk mengidap gangguan kejiwaan.

Beberapa contoh masalah kejiwaan yang biasa dikategorikan sebagai ODMK adalah seseorang yang memiliki masalah galau kronis dan stres, yang mengakibatkan turunnya kualitas hidup orang tersebut.

Sementara orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) adalah pasien pengidap gangguan jiwa yang sudah terdektesi penyakitnya oleh dokter. Dengan kata lain, orang tersebut sudah berobat dan mendapat diagnosis dan penanganan untuk penyakitnya.

Terlepas dari kedua sebutan tersebut, Noriyu mengatakan bahwa bertepatan dengan Mental Health Awareness Week yang jatuh pada 5-11 Oktober 2014, sudah seharusnya masyarakat lebih mawas soal penyakit dan gangguan jiwa. Sehingga diharapkan tidak ada lagi stigma negatif pada mereka yang berasal dari masyarakat.

"Jadi jangan menganggap bahwa anggota keluarga atau orang lain dengan gangguan jiwa sebagai masalah. Mereka manusia juga, sama seperti kita. Hanya saja sedang sakit dan butuh perawatan, penanganan dan penyembuhan," pungkasnya.

(rsm/up)