Rabu, 12 Nov 2014 18:35 WIB

Belum Tentu Neuroblastoma, Tapi Jangan Sepelekan Bobot Anak yang Menurun

- detikHealth
Illustrasi: Thinkstock Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Terkadang anak-anak harus menghadapi kondisi yang berat, seperti melawan penyakit serius semacam kanker. Sakitnya anak pun menjadi sakitnya orang tua. Karena itu penting bagi orang tua untuk memperhatikan dengan baik kondisi anaknya. Anak-anak yang masih sangat kecil tidak bisa mengeluh, sehingga deteksi dini penyakit serius hanya bisa dilakukan oleh pengamatan ayah dan ibunya.

Nah, Ayah dan Ibu, jangan remehkan penimbangan berat badan anak ya. Karena dari penimbangan ini akan diketahui naik tidaknya bobot si kecil secara berkala. Jika berat badan si kecil menurun, apalagi dibarengi dengan hilangnya nafsu makan, jangan pernah anggap sepele. Karena salah satu tanda penyakit serius seperti neuroblastoma adalah menurunnya berat badan anak. Tapi catat ya Ayah dan Ibu, menurunnya berat badan anak tidak selalu karena neuroblastoma.

Neuroblastoma merupakan kanker yang diawali dengan adanya kelainan sel saraf. Neuroblastoma bisa menyerang leher, rongga dada, atau mata.
Jika menyerang mata, maka mata akan menonjol, kelopak mata turun, dan pupil melebar. Sedang bila menyerang tulang akan menyebabkan patah tulang tanpa sebab, atau bahkan kelumpuhan bila menyerang tulang belakang.

"Yang pasti (tandanya) adalah penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan. Memang belum tentu kanker sih kalau berat badannya turun, tapi orang tua harus waspada," kata dr Endang Windiastuti SpA(K), dalam perbincangan dengan detikHealth, Rabu (12/11/2014).

Jika perut yang terkena, sambung dr Endang, maka cirinya adalah perut anak membesar dan teraba keras. Orang awam mungkin akan sulit membedakan perut membesar karena neuroblastoma atau karena kembung. Namun dokter biasanya akan mudah mengenali. Jika dicurigai adayang tidak beres, biasanya anak akan disarankan menjalani USG.

"Dari USG, dokter sudah bisa menilai," lanjut dr Endang.

Sayangnya, sambung dr Endang, masih ada orang tua yang 'tidak terima' anaknya dikatakan terkena kanker. Sehingga kerap kali orang tua mencari pengobatan di luar medis yang justru menyulitkan dokter untuk menangani penyakit tersebut.

"Mencari alternatif, sehingga tidak lagi ke dokter, saat datang lagi kankernya sudah menyebar luas. Ini yang jadi kendala. Padahal kalau semakin cepat dideteksi, semakin cepat ditangani, peluang sembuhnya lebih besar," tutur dr Endang.

Bila terdeteksi pada stadium 2, pasien jenis kanker ini masih memiliki tingkat kelangsungan hidup sebesar 80-95 persen. Namun bila ditemukan pada stadium 4, tingkat kelangsungan hidup diperkirakan turun menjadi kurang dari 40 persen.

Kanker yang menyerang jaringan saraf simpatis ini mendominasi 10 persen dari seluruh kasus kanker pada anak. Kebanyakan ditemukkan pada bayi baru lahir hingga usia 4 tahun, dengan perbandingan kasus pada anak laki-laki 1,2 kali lebih banyak daripada anak perempuan.

"Pesan saya untuk orang tua sederhana saja. Kalau anak nggak mau makan, rewel, segera periksa, jangan tunda. Lebih cepat ketemu penyakitnya, apalagi kanker, maka akan lebih besar peluang sembuhnya," pesan dr Endang.

(vit/up)
News Feed