Kamis, 13 Nov 2014 12:04 WIB

Studi: Air Mata Bahagia Keluar untuk Bantu Kendalikan Emosi

- detikHealth
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Istilah 'air mata bahagia' kadang diucapkan saat seseorang menangis tapi bukan karena merasa sedih. Fenomena psikologis ini sampai sekarang belum banyak terjelaskan dan hal ini menarik perhatian psikolog dari Yale University.

Para peneliti mengatakan dengan memahami mengapa seseorang mengekspresikan dirinya dengan menangis saat bahagia, studi diharapkan dapat membantu memahami kesehatan mental seseorang lebih jauh.

Pemimpin studi, Oriana Aragon mengatakan sebelumnya ia sangat keherenan mengapa orang mengeluarkan ekspresi negatif saat bahagia. Tapi setelah dirinya melakukan berbagai macam studi memperhatikan ekspresi seseorang ia kini lebih mengerti mengapa orang menangis.

"Orang-orang mungkin berusaha memulihkan keseimbangan emosional mereka dengan ekspresi ini. Hal tersebut tampaknya terjadi saat seseorang kewalahan dengan emosi positif yang kuat, dan orang yang menangis tampak pulih lebih cepat dari emosi tersebut," kata Aragon dikutip dari situs resmi Yale University, yale.edu, Kamis (13/11/2014).

Aragon melakukan penelitiannya dengan menjalankan tes pada partisipan untuk menjalani skenario membahagiakan seperti melihat reuni yang mengharukan atau bayi yang lucu. Ia menemukan bahwa individu yang mengeluarkan reaksi negatif terhadap sesuatu positif dapat mengendalikan emosi mereka dengan lebih cepat.

Selain itu peneliti juga menemukan bukti bahwa hal sebaliknya juga berlaku, yaitu berita negatif bisa menimbulkan reaksi positif beberapa orang. Hal ini dapat diperhatikan pada tawa saat seseorang gelisah atau senyum saat seseorang sedih.

"Pengetahuan baru ini meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana orang mengekspresikan dan mengontrol emosi mereka. Hal ini penting karena berkaitan dengan kesehatan mental dan fisik, kualitas hubungan seseorang, serta seberapa baik orang bekerja sama," papar Aragon.

(vit/vit)