Selasa, 02 Des 2014 16:33 WIB

Dengan Bedah Robotik, Pasien Adenomiosis Kini Tak Perlu Lagi Angkat Rahim

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Teknologi bedah robotik membuat dokter tak perlu lagi membuka perut pasien ketika melakukan operasi. Selain memperkecil rasa nyeri dan bekas luka, bedah robotik ternyata juga mampu mengeliminasi prosedur angkat rahim bagi beberapa penyakit, misalnya adenomiosis.

dr Sita Arumi, SpOG, salah satu dokter yang tergabung dalam Advanced Robotic and Minimal Invasion Surgery (ARMIS) RS Bunda Jakarta mengatakan bahwa biasanya, angkat rahim merupakan satu-satunya jalan untuk menyembuhkan ademiosis. Namun berkat adanya teknologi bedah robotik, pasien adenomiosis ‎kini tak perlu lagi angkat rahim.

"Jadi ademiosis itu kan nempel di jaringan otot rahim. Bisa saja misalnya dengan operasi terbuka atau laparoskopi biasa dibersihkan dan diangkat namun karena berakar, nanti bisa kambuh lagi. Karena itu biasanya dokter menyarankan untuk angkat rahim," tutur dr Sita kepada wartawan, usai acara pencapaian Bedah Robotik ke-100 di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (2/12/2014).

Adenomiosis adalah penyakit yang terjadi akibat tumbuhnya jaringan endometrium yang abnormal. Kondisi ini membuat wanita yang mengalami menstruasi merasakan nyeri yang sangat hebat dan perdarahan yang lebih banyak dari biasanya. Pada beberapa kasus, adeno‎miosis juga menyebabkan rasa nyeri di pinggul ketika berhubungan seksual.

dr Sita menjelaskan bahwa karena berakar, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukakan operasi angkat rahim. Namun hal ini menjadi masalah ketika pasien yang ditangani belum menikah atau belum memiliki anak sehingga tak ingin rahimnya diangkat.

"Dengan laparoskopi bisa namun kurang efektif dan efisien. Nah kalau dengan bedah robotik kita bisa potong bagian rahim yang terkena, dan masih menyisakan dinding rahim, lalu ditutup dan dijahit," tuturnya lagi.

Dikatakan dr Sita bahwa operasi ini hanya bisa dilakukan dengan operasi terbuka. Namun dikatakannya bahwa pasien lebih banyak memilih operasi bedah robotik karena bekas lukanya yang lebih kecil.

dr Ivan R Sini, SpOG yang juga merupakan tim dokter ARMIS RS Bunda Jakarta mengatakan bahwa tak hanya bedah adenomiosis saja yang bisa dikerjakan dengan bedah robotik. Bedah lain seperti operasi prostat ataupun operasi usus besar juga bisa ditangani bedah robotik.

"Sebagai dokter tentunya kita memberikan pilihan operasi yang akan dilakukan kepada pasien. Mau bedah terbuka, laparoskopi atau bedah robotik. Nah masing-masing dijelaskan faktor plus minus. Tentunya kan kita maunya yang risiko rasa sakit, komplikasi dan bekas lukanya yang paling kecil," ungkapnya.

Karena bedah robotik merupakan teknologi baru dengan faktor risiko yang paling sedikit, dr Ivan mengatakan bahwa akhirnya banyak pasien yang memilih melakukan bedah robotik. Selain merupakan teknologi mutakhir, bedah robotik juga ternyata dinilai lebih efisien.

"Bekas luka lebih kecil, nyeri lebih sedikit sementara harga tak beda jauh dari laparoskopi. Kalau laparoskopi kan antara Rp 40-70 juta. Sementara bedah robotik kita sekarang Rp 58 juta dan bisa lebih murah kalau pasiennya semakin banyak," ungkapnya.

(mrs/vit)