ADVERTISEMENT

Minggu, 08 Feb 2015 14:03 WIB

Dokter Kebingungan, Pasien Jadi Kegemukan Selepas 'Cangkok' Tinja

- detikHealth
Rhode Island - Transplantasi feses bisa jadi satu-satunya cara yang menjanjikan untuk mengatasi infeksi pencernaan akibat bakteri super Clostridium difficile, kendati prosedur ini belum dikenal luas. Hanya saja beberapa waktu lalu, seorang pasien asal Amerika mengalami hal aneh setelah menjalani prosedur ini

Wanita yang tak diketahui identitasnya ini sudah berulang kali kambuh dari infeksi pencernaan tersebut. Hingga akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan proses 'cangkok' tinja. Kebetulan donor tinjanya adalah putrinya sendiri yang masih berumur 16 tahun.

Baca juga: Demi Bunuh Bakteri Super, Dokter Pompa Tinja ke Hidung Pasien

Prosedur dilakukan di tahun 2011 dengan cara colonoscopy. Menurut penemunya, hal ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan bakteri di usus pasien, yang pada akhirnya akan menyembuhkan si pasien dari infeksi yang cukup berbahaya itu.

Kejadian aneh berlangsung 16 bulan kemudian. Berat badan si pasien naik menjadi 76 kg dan BMI-nya juga meningkat menjadi 33 atau tergolong ke dalam obesitas.

"Pasien sendiri mengatakan, sejak menjalani transplantasi feses, ia merasa ada semacam saklar yang menyala di tubuhnya. Ia juga merasa tak perlu mencemaskan berat badan lagi," ungkap salah satu tim dokter yang menangani pasien tersebut, Colleen Kelly seperti dikutip dari Daily Mail, Minggu (8/2/2015).

Melihat hal itu, tim dokter kemudian berupaya untuk mendorong pasien melakukan diet protein cair dan olahraga rutin. Namun semuanya sia-sia, berat badan pasien yang diketahui berumur 32 tahun itu justru terus bertambah. Dan tiga tahun pasca transplantasi, pasien dinyatakan memiliki berat badan sebesar 79 kg dengan BMI 34,5.

"Kami tentu kebingungan dan bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan transplantasinya? Atau jangan-jangan dari sekian bakteri 'baik' yang dimasukkan ke tubuh pasien, ternyata ada beberapa yang berdampak negatif terhadap metabolismenya?" tanya Kelly.

Kondisi ini terdengar semakin aneh karena Kelly mengetahui bahwa pasien belum pernah mengalami kelebihan berat badan sebelumnya. Sebelum transplantasi, berat badannya hanya 60 kg dengan BMI 26.

Setelah dirunut ke belakang, barulah ketahuan bila si pendonor tinja, yang tak lain putri pasien sendiri, mengalami penambahan berat badan hingga mencapai 72,5 kg beberapa saat setelah 'menyumbangkan' fesesnya.

"Ini artinya kita harus selektif dalam memilih donor tinja, terutama menghindari yang kelebihan berat badan," simpul peneliti dari Warren Alpert Medical School of Brown University tersebut.

Hal ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada tikus. Setelah peneliti memindahkan bakteri usus dari tikus yang kelebihan berat badan ke tikus yang bobotnya normal, mereka memang melihat adanya peningkatan lemak di tubuh tikus dengan bobot normal.

"Tapi bisa jadi penyebab kegemukannya bukan semata karena prosedur ini. Ada kemungkinan lain seperti faktor genetik, dampak dari penuaan, hingga stres yang berkaitan dengan penyakitnya," tutupnya.
 
Baca juga: Cegah Diare, Ilmuwan Kembangkan Kapsul Berisi Feses

(iva/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT