Selasa, 10 Feb 2015 07:03 WIB

Faktor-faktor yang Pengaruhi Pengentasan Malnutrisi di Indonesia

- detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Global Nutrition Report 2014 tak hanya berisisikan data-data permasalahan nutrisi di berbagai negara di dunia. Laporan yang disusun oleh pakar nutrisi terkemuka ini juga menyusun beberapa rekomendasi soal pengentasan malnutrisi di negara-negara bermasalah, termasuk Indonesia.

Berbicara dalam diskusi GNR 2014 di Kantor Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Prof Lawrence Haddad, peneliti senior dari International Food Policy Research Institute, mengibaratkan malnutrisi sebagai beban pemerintah. Ia mengibaratkan pemerintah sebagai timbangan dan malnutrisi merupakan beban berat di salah satu sisi.

"Di sisi lain tiga sektor penting yang sebenarnya bisa membantu membuat timbangan menjadi imbang, yakni sektor pertanian, pendidikan dan sanitasi. Ketika beban malnutrisi terasa berat, hal ini disebabkan oleh upaya di tiga sektor tersebut hampir tidak ada, sehingga menjadi ringan," ungkap Prof Haddad, dalam diskusi GNR 2014 di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jl Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, seperti ditulis Selasa (10/2/2015).

Baca juga: Banyak Masalah, Kemenkes Sebut Indonesia Sedang Dilanda Bencana Gizi

Menurutnya, beban yang ditanggung Indonesia sebagai salah satu negara dengan masalah nutrisi terberat dapat diatasi dengan bantuan sektor pertanian, pendidikan dan sanitasi. Di sektor pertanian contohnya, petani dididik untuk tak hanya menanam tanaman yang mempunyai nilai jual tinggi, namun juga menanam tanaman yang kandungan gizinya banyak.

Dengan begitu, target swasembada pangan Indonesia pun dapat terpenuhi. Secara otomatis, harga-harga makanan yang sehat dan bernutrisi tinggi akan turun karena Indonesia tak perlu lagi mengimpor bahan makanan tersebut. Makanan-makanan tersebut pun akan lebih mudah dijangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dari sektor pendidikan, Prof Haddad mengatakan bahwa salah satu penyebab negara-negara berkembang seperti Indonesia mengalami masalah nutrisi adalah karena kurangnya tenaga gizi klinis. Memberikan prioritas kepada anak muda dengan potensi untuk menempuh pendidikan kedokteran atau kesehatan masyarakat akan menambah jumlah tenaga kesehatan di masa depan.

Hal ini akan mendorong perbaikan di sistem pelayanan kesehatan. Penyakit-penyakit seperti gizi buruk dan gizi lebih dapat dikurangi, dengan catatan semakin banyaknya tenaga kesehatan ditunjang dengan program-program yang memadai dari pemerintah.

Terakhir, ia menyarankan agar sistem sanitasi dan air bersih diperbaiki. Sanitasi yang buruk dan akses air bersih yang sulit akan memunculkan penyakit infeksi di pencernaan seperti diare kronis.

Ketika seseorang terserang diare, sistem pencernaan tidak bisa bekerja sempurna. Makanan sehat yang masuk ke tubuh‎ pun akan percuma karena tak bisa diserap dengan baik.

Jika ketiga sektor ini diperkuat, maka timbangan malnutrisi yang tadinya berat sebelah niscaya akan seimbang. Pemerintah tak perlu lagi membeli vitamin, susu atau daging untuk dibagikan kepada masyarakat, demi menghilangkan masalah malnutrisi yang hanya akan terus menyedot dana dan sumber daya.

"Dana dan sumber daya yang dihabiskan untuk program malnutrisi tidak akan kembali. Tapi jika investasi dilakukan di tiga sektor ini, secara otomatis permasalahan malnutrisi pelan-pelan akan terangkat, dan bahkan bisa hilang sama sekali," tutup profesor dari University of Sussex, Inggris ini.

Baca juga: Tak Melulu Soal Ekonomi, 3 Hal Ini Bisa Picu Gizi Buruk pada Anak

(mrs/vit)