Sabtu, 14 Feb 2015 15:32 WIB

Skrining dan Vaksin Hepatitis B, Salah Satu Cara Cegah Kanker Hati

- detikHealth
ilustrasi (Foto: thinkstock) ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Saat mencapai stadium lanjut, harapan hidup pasien kanker hati terbilang sangat kecil. Meski demikian, bukan berarti kanker hati tidak bisa dicegah lho. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan deteksi dini hepatitis B.

Apalagi, mengingat di Indonesia sebagian besar kanker hati disebabkan karena hepatitis B. Meskipun, ada pula penyebab lainnya seperti hepatitis C dan perlemakan hati, meskipun jarang. Hal tersebut diungkapkan dr Unggul Budihusodo, SpPD-KGEH.

"Sebagian besar hepatitis B tidak menimbulkan keluhan akhirnya tidak ditangani. Sehingga, saat ketahuan virus sudah merusak jaringan di hati. Meskipun, perlu diingat butuh waktu lama ketika hepatitis B menjadi kanker hati, sekitar 20-30 tahun. Setelah belasan hingga duapuluh tahun lebih, dapat terjadi sirosis hati, yang salah satu komplikasinya ialah kanker hati primer." tutur dr Unggul saat dihubungi detikHealth, Sabtu (14/2/2015).

"Sampai di titik ini pun sebagian besar pasien bisa tetap tidak memiliki keluhan apa-apa. Kalaupun ada keluhan seringkali tidak khas dan ringan. Akibatnya pasien tidak menyadari adanya penyakit serius ini di dalam tubuhnya," imbuh dr Unggul.

Kanker hati pun tidak bisa dikemoterapi atau diradioterapi. Namun, berdasarkan statistik, dengan terapi target, dr Unggul mengatakan harapan hidup pasien bisa diperpanjang sampai 50%, dari sekitar 7 bulan menjadi 12 bulan. Saat kanker hati memasuki stadium lanjut, sel kanker sudah menyebar sehingga tidak memungkinkan lagi dilakukan transplantasi hati. Maka dari itu, dr Unggul menekankan pentingnya deteksi dini hepatitis B.

Medical check-up secara berkala, misalnya setahun sekali bagi 'orang sehat' dikatakan dr Unggul merupakan tindakan yang bermanfaat, antara lain untuk deteksi dini, sebelum terjadi sirosis maupun kanker hati.

"Semua orang yang belum divaksin berisiko terkena hepatitis B. Bagi mereka yang menunjukkan HBsAg maupun Anti-HBs negatif, dianjurkan untuk divaksinasi sebagai tindakan pencegahan terjadinya infeksi HBV. Kalau sudah divaksin perlu dicek lagi setelahnya apakah sudah ada Anti-HBs nya," kata dr Unggul.

Jika sudah divaksin dan sudah terbentuk antibodi, maka skrining tidak diperlukan lagi. Rajin check-up sangat disarankan terutama bagi mereka yang memiliki keluarga dengan riwayat hepatitis B. Pada beberapa orang, ada yang sudah memiliki anti-HBs tanpa ia divaksin.

Hal tersebut bisa terjadi ketika yang bersangkutan pernah tertular hepatitis B dan secara alami tubuhnya mampu membuat anti-HBs. Pada orang seperti ini, menurut dr Unggul tidak perlu diberi vaksin lagi karena tubuhnya sudah kebal.

Baca juga: Tak Bergejala, Skrining Penting untuk Deteksi Dini Hepatitis B

"Kalau sudah divaksin dan ada anti-HBs nya, berarti dia sudah kebal. Misalkan sampai dewasa belum divaksin, rajin check up setahun sekali untuk melihat apakah kena hepatitis B atau tidak," kata dr Unggul.

Ketika seseorang terkena hepatitis B, akan dilakukan pengobatan selama dua tahun dengan menggunakan obat oral atau injeksi. Pengobatan bertujuan untuk mematikan virus dan selesai pengobatan perlu adanya evaluasi karena bisa saja pengobatan yang dilakukan tidak berhasil.

Dikatakan dr Unggul, infeksi HBV bisa bersifat akut maupun kronis (lebih dari 6 bulan). Makin muda usia saat terinfeksi, makin besar pula risiko terjadinya kronisitas infeksi HBV. Seperti penuturan dr Unggul, bayi baru lahir yang terinfeksi HBV dari darah ibunya saat proses persalinan, hampir semuanya akan mengalami infeksi atau hepatitis kronis.

Baca juga: Hepatitis B Dikenal Sebagai 'Asian Disease', Jaga Hati dengan Cara Berikut


(rdn/rdn)
News Feed