Jumat, 13 Mar 2015 18:35 WIB

RS Rakyat Miskin

Rakyat Miskin Berobat Gratis, Bagaimana dengan Warga Sekitar?

- detikHealth
RS Rumah Sehat Terpadu (Foto: Reza/detikHealth) RS Rumah Sehat Terpadu (Foto: Reza/detikHealth)
Parung -

RS Rumah Sehat Terpadu milik Yayasan Dompet Dhuafa memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi rakyat miskin yang tergabung sebagai member. Selain itu, rumah sakit ini juga merupakan provider BPJS dari sektor swasta, sehingga pemegang kartu BPJS, ASKES hingga Jamkesmas dapat pula menikmati pelayanannya.

Namun akses tersebut disebut tak dinikmati oleh warga sekitar. Ade, salah seorang warga RT 02/03 Desa Jampang, mengatakan bahwa ia tidak menerima manfaat pengobatan gratis dari RST. Padahal tempat tinggalnya berjarak tak sampai 200 meter dari rumah sakit tersebut.

"Nggak, saya nggak dapat. Memang pernah mengajukan pendaftaran tapi katanya nggak lolos," tutur Ade, saat ditemui detikHealth di kediamannya, Jl Raya Jampang, Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Bogor, dan ditulis Jumat (13/3/2015).

Baca juga: Di Rumah Sakit Ini, Orang Miskin Bisa Berobat Gratis

Ade sedikit menyesalkan mengapa pihak RS tak bersedia memberikan pelayanan yang sama kepada warga sekitar. Padahal menurutnya, warga desa Jampang yang terletak tak jauh dari rumah sakit juga bisa dikategorikan sebagai dhuafa dan berpenghasilan rendah.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Bidang Humas dan Marketing RST, Fariha, menuturkan bahwa memang sempat ada pergolakan kecil dari warga sekitar soal kebijakan RS yang hanya melayani kaum dhuafa. Bahkan pada saat pertama kali dibuat, RS khusus orang miskin pernah didemo.

"Iya waktu itu pertama dibuat memang pernah didemo. Warga sekitar sebagai orang sini minta dilayani juga. Kami katakan kalau kami siap melayani, asalkan lolos dan terverifikasi sebagai dhuafa. Setiap warga berhak memperoleh pelayanan yang sama, jika dalam keadaan emergency kami berkewajiban membantu selama fasilitas di kami ad,a" tutur wanita yang akrab disapa Fia ini.

Kebijakan ini menurut Fia membuat tak ada perbedaan antara warga sekitar dan masyarakat Indonesia lainnya. Jika termasuk dalam kaum dhuafa dan sudah diverifikasi, sudah pasti akan diberikan pelayanan.

"Makanya kami verifikasi. Kan nggak cuma dilihat harta dan aset, tapi juga tanggungannya. Kalau penghasilan Rp 5 juta sebulan, tapi anaknya 10 kan berat juga, itu mungkin saja lolos kategori dhuafanya," ungkap Fia.

Baca juga: Di RS yang Gratiskan Orang Miskin Ini, Pasien Diajak Zikir dan Berdoa

"Lain lagi kalau pengemis, memang sehari-harinya mengemis tapi ngasih uang belanja ke istrinya Rp 100-150 ribu setiap hari. Itu kan nggak termasuk dhuafa," paparnya lagi.

Khusus warga sekitar, terutama warga daerah Desa Jampang, Fia mengatakan bahwa sudah ada memorandum of understanding (MoU) antara pihak desa dengan rumah sakit. Isinya membolehkan warga untuk mendapat pelayanan rawat inap dengan batas waktu maksimal 3 x 24 jam.

Syaratnya, pasien hanya boleh menginap jika memang keadaan memaksa. Misalnya pasien merupakan pasien kronis dan sudah lanjut usia, atau pasien tidak memiliki keluarga yang dapat menjaga jika dirujuk ke rumah sakit yang lebih jauh.

"Kebijakan direksi membolehkan kalau misalnya warga atau masyarakat dalam keadaan darurat. Kalau darurat siapa saja boleh. Khusus warga sekitar, ada MoU juga kok. Jadi kita bolehkan menginap 3 x 24 kalau kamar rawat inap tersedia, dan kondisi pasien sangat membutuhkan," tuturnya.

Baca juga: Tak Ada Kasir, Rumah Sakit Ini Berikan 'Billing' Zakat Kepada Pasien

(rsm/vta)
News Feed