Senin, 16 Mar 2015 14:30 WIB

Soal Pangan Berformalin, BPOM Mulai Fokus Bidik Industri

- detikHealth
dok: detikFoto
Jakarta -

Terbongkarnya pabrik kikil berformalin di Jakarta Barat baru-baru ini tak disia-siakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Momentum ini dimanfaatkan untuk mulai fokus ke hulu, yakni membidik industri yang memproduksinya.

"Saatnya berubah. Kami sudah sering menemukan ini di pedagang retail, sekarang kami lebih ke hulu, ke industrinya," kata Kepala BPOM, Roy Sparringa di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional BPOM di Hotel Bidakara Jakarta Selatan, Senin (16/3/2015).

Baca juga: Penampakan Mi Berformalin dalam Blusukan Menkes: Kenyal dan Agak Berminyak

Untuk itu, Roy berharap kerja sama lintas sektor diperkuat. Regulasi saja, menurut Roy tidak cukup tanpa didukung pembinaan dan pengawasan yang melibatkan masing-masing pemerintah daerah.

Roy menambahkan masyarakat juga akan terus diedukasi untuk sadar akan hak-haknya sebagai konsumen. Bahan berbahaya seperti formalin banyak ditemukan di keseharian sebagai campuran bahan makanan.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek yang membuka acara tersebut mengatakan, pengawasan terhadap bahan tambahan pangan berbahaya seperti ini harus diperkuat. Jika tidak, dampaknya akan membebani program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional).

"Meningkatnya kasus penyakit-penyakit tidak menular antara lain disebabkan oleh makanan berbahaya seperti kikil berformalin itu," kata Menkes Nila.

Baca juga: Hati-hati! 3 Produk Pangan Ini Paling Sering Dicampur Formalin

(up/vta)