Jumat, 03 Apr 2015 08:05 WIB

Eks Wamenkes Usul Pisahkan Layanan Promotif-Preventif dari Puskesmas

- detikHealth
Foto: detikFoto Foto: detikFoto
Jakarta - Fungsi utama puskesmas sebagai layanan kesehatan primer adalah melakukan upaya promotif dan preventif. Namun dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), fungsi ini perlahan mulai bergeser.

Prof Ali Ghufron Mukti, mantan wamenkes yang kini menjadi Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Universitas Gajah Mada mengatakan bahwa saat ini upaya promotif dan preventif di Puskesmas belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu, ia menyarankan agar sebaiknya upaya promotif dan preventif dipisahkan dari Puskesmas.

Menurut Prof Ghufron, salah satu sebab mengapa upaya promotif dan preventif kurang berjalan dengan baik di puskesmas adalah adanya ketidakjelasan siapa yang harus melakukannya. Masih banyak puskesmas yang tenaga kesehatannya pas-pasan dan akhirnya hanya fokus di pelayanan kuratif.

Baca juga: Pemerintah Fokus Bangun Puskesmas, IDI Khawatir Fungsi Puskesmas Bergeser

"Fasilitas primer ini saya kira memang jumlahnya masih kurang, ya SDM-nya, ya infrastrukturnya, padahal demand-nya tinggi, jadi harus ada terobosan di sistemnya," tutur Prof Ghufron, dalam diskusi publik Elpeka di Warung Kopi Proklamasi, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, dan ditulis Jumat (3/4/2015).

Salah satu terobosan tersebut menurut Prof Ghufron adalah dengan memisahkan falitas kuratif dan promotif-preventif dari puskesmas. Puskesmas hanya cukup menjadi pusat pelayanan kuratif dengan menggunakan dana kapitasi, sementara upaya promotif-preventif dilakukan oleh lembaga terpisah.

"Misalnya ini usulan saya saja lho ya, yang promotif-preventif itu dipegang Pemda. Jadinya nanti bidan, dokter dan perawat fokus saja ke kuratif, sementara promotif-preventif menggunakan tenaga kesehatan masyarakat atau pemberdayaan masyarakat," ungkapnya lagi.

Terkait pergeseran fungsi puskesmas ini, Kementerian Kesehatan sebenarnya sudah mengambil langkah penanganan dengan cara membangun 110 rumah saki rujukan regional. Namun menurut Prof Ghufron, membangun rumah sakit saja tidak akan menyelesaikan masalah.

"Memang akan membantu, tapi tidak akan menyelesaikan masalah. Yang harus dilakukan adalah melakukan terobosan, karena peserta jaminan sosialnya banyak, infrastruktur dan SDM-nya segitu-gitu saja," pungkasnya.

Baca juga: Kurangi Menumpuknya Pasien, Kemenkes Siapkan 110 RS Rujukan Regional

(rsm/vit)
News Feed