Selasa, 05 Mei 2015 15:32 WIB

Obat-obat Ini Penting, Tapi Mahal dan Butuh Perjuangan untuk Mendapatkannya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta - Obat kanker umumnya mempunyai harga yang relatif mahal. Namun keluhan pasien bukan cuma masalah harga, sebab selain harganya mahal kenyataannya obat-obat tersebut sering tidak tersedia di pasaran.

"Sudah bukan rahasia lagi. Pasien kanker itu seringkali harus beli obat di Singapura," kata Lutfiyah Hanim dari Third World Network, dalam temu media 'Hak Paten versus Hak Pasien' di Bakoel Koffie, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2015).

Bukan cuma obat kanker, obat-obat terutama yang harganya mahal juga sering mengalami kelangkaan. Padahal untuk menebusnya di luar negeri, pasien butuh perjuangan ekstra karena mau tidak mau mereka harus periksa dulu ke dokter setempat untuk mendapatkan resepnya.

Baca juga: Obat Leukemia Sering Kosong, Pasien Kanker Bingung

Soal harga obat yang mahal, Hanim mengaitkannya dengan kebijakan pemerintah tentang hak paten. Ia mencontohkan pada sekitar tahun 2000, harga obat ARV (Antiretroviral) untuk HIV (Human Immunodeficiency Virus) di Indonesia relatif sangat mahal karena masih dilindungi paten.

Namun beberapa negara sudah bisa menjualnya dengan harga yang lebih murah, bahkan India sudah mampu membuat versi generiknya. Akibatnya, beberapa orang harus 'menyelundupkan' obat-obat penting ini demi kelangsungan hidup sekelompok pasien lainnya.

"Ya terpaksa. Kalau nggak kami lakukan, kami nggak bisa bertahan hidup," kata Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) yang mengaku pada masa itu sering 'menyelundupkan' obat-obat ARV dari India dan Thailand.

Baca juga: 1 Dari 4 Pasien Hepatitis Terancam Kematian Akibat Sirosis Hati

Obat ARV akhirnya bisa dibeli dengan harga yang murah, bahkan digratiskan di Indonesia sejak 2004. Sejak saat itu data IAC menunjukkan angka kumulatif AIDS (Acquired Imuno Deficiency Syndrom) cenderung menurun dibandingkan dengan angka kasus HIV.

Hanim maupun Aditya berharap kebijakan serupa bisa diupayakan untuk obat-obat lain yang harganya saat ini masih setinggi llangit. Contohnya obat terbaru untuk Hepatitis C yakni Sofosbuvir yang harganya mencapai US$ 84.000/treatment/pasien (sekitar Rp 1 miliar).

"Selama ini pasien Hepatitis C tidak punya pilihan. Hanya bisa menunggu, entah sampai kapan," kata Aditya. (AN Uyung Pramudiarja/Ajeng Anastasia Kinanti)